
Pengajar Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dari University of Washington, Amerika Serikat, Dr. Chris Seiple, menjelaskan konsep dan implementasi LKLB dalam pelatihan yang diadakan bersama oleh Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum Kementerian Hukum RI dan Institut Leimena, 17 Juni 2025.
Jakarta, LKLB News – Pengajar Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yakni Senior Fellow University of Washington, Amerika Serikat (AS), Dr. Chris Seiple, membagikan pengalamannya berinteraksi di dunia kerja profesional kepada para aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi peserta pelatihan LKLB. Seiple menjadi pembicara untuk kelas LKLB kerja sama Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum Kementerian Hukum RI dan Institut Leimena yang diikuti 198 peserta pada 16-19 Juni 2025.
Seiple menerima banyak pertanyaan seputar relevansi LKLB dengan peran ASN dalam menjaga kemajemukan. Ia mengatakan LKLB sangat diperlukan agar ASN bisa bersikap inklusif dan adil dalam memberikan pelayanan kepada seluruh masyarakat tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, dan lainnya.
“Literasi Keagamaan Lintas Budaya bukan sinkretisme, bukan sekularisme, tidak merendahkan, sebaliknya adalah sikap rendah hati, mau mendengarkan, mau belajar, dan saling menghargai,” kata Seiple yang bersama Dennis R. Hoover menulis artikel “A Case for Cross-Cultural Religious Literacy”.
Salah satu pertanyaan dari peserta adalah urgensi dan manfaat implementasi LKLB. Dr. Seiple menjelaskan setidaknya ada dua manfaat yaitu strategis dan taktis. Pada level strategis, LKLB mendorong terwujudnya interaksi positif dengan orang yang mempunyai latar belakang berbeda.
“Semakin sering seseorang berinteraksi secara positif dengan orang lain yang berbeda, maka semakin besar kepercayaan yang akan terbentuk diantara mereka,” ujarnya.
Di level taktis, Seiple menyoroti pentingnya LKLB sebagai langkah untuk menciptakan lingkungan kerja yang menghargai pluralitas. Menurut Seiple, jika karyawan tidak merasa diterima maka loyalitasnya pun akan hilang. Ia mencontohkan sebuah inisiatif di Amerika Serikat untuk membentuk ruang aman sebagai wadah para pekerja dari berbagai pemeluk agama, dikenal dengan Employee Resource Group (ERG).
“Saat karyawan merasa identitasnya diterima utuh di tempat kerja, mereka akan lebih loyal dan produktif,” tandasnya.

Pendekatan LKLB bisa diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan termasuk di lingkungan kerja sebagai abdi negara atau aparatur sipil negara (ASN).
Seiple menggunakan lingkungan kerja sebagai metafora sebuah negara. Jika karyawan merasa dihargai dan diikutsertakan, maka produk dan reputasi perusahaan akan lebih baik. Begitu juga dalam kehidupan bernegara. “Semakin orang yakin bahwa kisah mereka adalah bagian dari kisah bangsanya maka semakin besar kesetiaannya kepada negara,” ungkapnya.
Seiple tidak memungkiri perbedaan keyakinan dan pandangan, misalnya dalam hal teologis atau politis, tidak dapat dihindarkan. Namun, interaksi positif yang ditanamkan lewat kompetensi LKLB, akan menumbuhkan kepercayaan yang pada akhirnya mewujudkan kohesi sosial dalam masyarakat.
“Kohesi sosial yang baik membuahkan statibilitas. Stabilitas menjadi faktor penting untuk mendatangkan investasi dan membuka lapangan kerja. Ini dibutuhkan semua negara, terutama anak muda, dan sebagaimana diketahui Asia Tenggara didominasi populasi anak-anak muda,” ujarnya.

Program LKLB memberikan kesempatan kepada peserta yang telah lulus pelatihan daring untuk mengikuti berbagai kegiatan lanjutan, salah satunya Hybrid Upgrading Workshop sebagai sarana semakin membuka ruang perjumpaan lintas agama.
Membongkar Stereotip
Seiple juga ditanyakan mengenai peran LKLB untuk membongkar stereotip dan prasangka. Menjawab pertanyaan tersebut, Seiple merujuk pada kisah perjumpaannya dengan Akram Khan Durrani, seorang pemimpin Muslim dari Pakistan. Ia mengakui perjumpaan itu mengubah sudut pandangnya terutama yang muncul setelah peristiwa teror 9/11.
Seiple menegaskan bahwa perubahan prasangkanya terhadap Islam tidak terjadi karena perdebatan, melainkan lewat perjumpaan yang jujur dan empatik. Seiple bertanya kepada Durrani mengenai hal apa yang mendorong kerjanya selama ini. Jawaban yang didapatkan sangat menyentuh yakni Durrani meyakini bahwa kepemimpinannya kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
“Saya juga percaya itu. Di sinilah peluang untuk berkolaborasi terbuka dengan cara berfokus pada hal-hal sama yang diyakini bersama,” tandas Seiple.
Seiple pun mengajak sahabat Muslimnya melihat langsung Ground Zero di New York yaitu tempat bekas serangan 9/11. Bagi Seiple, momen itu menjadi penting karena mereka berdua saling merasakan luka masing-masing. Menurutnya, pesan inti dari LKLB adalah membangun ruang-ruang perjumpaan lintas iman yang memungkinkan tumbuhnya sikap saling percaya. Meski perbedaan tetap ada, namun kita tetap akan menemukan nilai-nilai yang diyakini bersama.
“Kuncinya adalah menghabiskan waktu bersama dengan orang yang berbeda, meski awalnya tidak nyaman,” katanya.
Pertanyaan lain yang diutarakan kepada Chris Seiple mengenai cara menghadapi rekan kerja dengan latar belakang berbeda sekaligus belum dibekali LKLB. Menurut Seiple, LKLB menekankan pentingnya kepekaan dan ketulusan dalam membangun komunikasi. Ia menyebut banyak pegawai pemerintah yang terobsesi dengan kecepatan. Mereka ingin segera selesai agar bisa pindah ke urusan lain. Alih-alih, relasi yang sehat justru akan mempercepat kerja di masa yang akan datang. “Lakukan dengan pelan agar bisa cepat,” kata Seiple. [IL/Zul/Chr]