Tiga guru alumni Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya menjadi narasumber dalam Panel 3 International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) pada November 2025 di Jakarta.

Jakarta, LKLB News – Institut Leimena menegaskan komitmen dalam memperkuat peran guru dan tenaga pendidik melalui program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Program yang telah menjangkau ribuan guru di seluruh Indonesia ini telah melahirkan inisiatif nyata untuk membangun kerja sama lintas iman yang mampu memperkuat kohesi sosial dalam masyarakat majemuk.

Dalam International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) atau Konferensi Internasional LKLB yang digelar Institut Leimena bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI pada 11-12 November 2025, para pendidik dari Indonesia bagian barat, tengah, dan timur membagikan panggilan mereka untuk berdampak nyata bagi para murid dan komunitasnya.

Kepala Sekolah Madrasah Tsanawiyah Ash-Shalihin Gowa, Sulawesi Selatan, Muhammad Kafrawy menggagas kunjungan persahabatan ke Sekolah Kristen Elim di Makassar. Inisiatif ini lahir dari rasa keprihatinan terhadap potensi konflik bernuansa agama di daerahnya.

“Saya terpanggil mengambil inisiatif karena sebagai alumni LKLB saya punya tanggung jawab untuk meminimalisir konflik di daerah saya. Saya mengajak para murid di tingkatan SD, SMP dan SMA di pesantren, berkunjung ke Sekolah Kristen Elim. Respon murid kami antusias dan semangat untuk berkunjung ke tempat yang berbeda,” kata Kafrawy sambil menampilkan sejumlah foto saat murid-muridnya saat berkunjung ke sekolah dengan latar belakang agama berbeda tersebut.

Kafrawy, yang merupakan Alumni LKLB Angkatan 8, berharap kunjungan persahabatan para siswa pesantren ke sekolah Kristen akan menumbuhkan suasana keterbukaan. Peserta didik juga dapat belajar langsung tentang kebinekaan, bukan semata teori dari buku. Ia menyatakan kunjungan antar sekolah seperti ini menjadi jembatan baru bagi generasi muda untuk memandang perbedaan bukan sebagai ancaman, sebaliknya sebagai sebuah kekayaan.

“Kegiatan ini adalah penghubung dan nafas baru bagi para generasi muda, khususnya di Kota Makassar. Anak didik kami baik di Pesantren Ash-Shalihin maupun di Sekolah Kristen Elim dapat menata masa depan Makassar yang lebih cerah karena mereka belajar toleransi. Ini menjadi penyemangat baru untuk masa depan Indonesia yang lebih harmoni,” ujar Kafrawy.

Guru MTs Negeri 6 Kebumen, Jawa Tengah, Sarifudin (tengah), bersama Kepala Sekolah MTs Ash-Shalihin Gowa, Sulawesi Selatan, Muhammad Kafrawy, dan Kepala SMA Kristen Rehoboth Ambon, Salomina Patty, menceritakan inisiatif mereka dalam menerapkan Literasi Keagamaan Lintas Budaya di sekolah dan komunitas mereka.

Dialog Remaja Lintas Agama

Senada dengan itu, Guru Madrasah Tsanawiyah Negeri 6 Kebumen, Jawa Tengah, Sarifudin, menginisiasi dialog lintas agama antara remaja Islam dan Kristen. Kegiatan yang awalnya menuai keraguan dan tantangan, akhirnya justru berhasil membangun pemahaman baru tentang pentingnya kepedulian sosial lintas agama.

“Tujuan dialog ini adalah menginspirasi remaja Islam dan Kristen, bahwa program ini bertujuan saling mengetahui bagaimana kepedulian sosial yang harus dimiliki dalam masyarakat majemuk,” kata Sarifudin.

Sarifudin mengatakan dialog berjalan lancar, baik remaja Islam dari MTs 6 maupun remaja Kristen dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) di Kebumen, mampu saling berdiskusi.

“Mereka saling memahami tentang kepedulian antar sesama yang tidak dibatasi oleh sekat ras, suku dan agama. Kita disatukan untuk menjadi Indonesia dan ini adalah Bhinneka Tunggal Ika,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Kristen Rehoboth Ambon, Maluku, Salomina Patty, mendeklarasikan Sekolah Gandong antara SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal, sebagai simbol rekonsiliasi dan perdamaian. Salomina terdorong melakukan aksi tersebut khususnya setelah mengikuti program LKLB dan Konferensi Internasional LKLB tahun 2024. Ia ingin membebaskan para muridnya dari rasa curiga kepada teman yang berbeda agama di tengah situasi trauma akibat konflik Ambon di masa lalu.

“Kami membuat deklarasi Sekolah Gandong pada 24 Agustus 2024 yang mendapat dukungan banyak pihak. Kami ingin di sekolah anak-anak diberikan ruang untuk bertoleransi dan hidup dalam kasih yang tulus sebagai implementasi LKLB,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjawab pertanyaan dari peserta ICCCRL 2025.

Bukan Jadi Ahli Agama

Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan LKLB adalah kemampuan memahami dan berinteraksi secara positif dan konstruktif dalam masyarakat yang beragam  budaya dan agama. Ada tiga konsep kompetensi utama dalam LKLB yaitu kompetensi pribadi, kompetensi komparatif dan kompetensi kolaboratif.

“Tujuan utama dari LKLB bukan menjadikan seseorang ahli agama atau lebih saleh, melainkan membangun kompetensi untuk memahami, menghargai dan bekerja sama di tengah masyarakat yang majemuk secara agama dan budaya,” kata Matius.

Dari pengalaman menjalankan program LKLB ini, Institut Leimena menemukan ketika kompetensi untuk berkolaborasi lintas agama dan budaya dikembangkan, maka akan tumbuh rasa saling percaya diantara pemeluk agama yang berbeda. Kepercayaan ini sangat penting untuk membangun kohesi sosial dalam masyarakat yang beragam.

“Kita butuh kepercayaan untuk bekerja sama, dan melalui kerja sama itulah kepercayaan terbentuk. Jadi ini seperti lingkaran yang saling menguatkan,” ujarnya.

Program LKLB yang diluncurkan tahun 2021 telah melatih sekitar hingga 3.000 guru setiap tahunnya dari seluruh provinsi di Indonesia. Saat ini lebih dari 70 kelas aktif berjalan berkat dukungan 40 lembaga pendidikan serta kerja sama dengan berbagai kementerian seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama. Ia bersyukur, pada 2025, Program LKLB telah diadopsi sebagai salah satu strategi jangka panjang ASEAN untuk 20 tahun kedepan.

“Kami ingin melibatkan banyak pihak, termasuk dari luar Indonesia untuk berdiskusi tentang bagaimana LKLB membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif dan kohesif. Salah satu fokus kami dalam setiap konferensi adalah membahas LKLB dalam konteks komunitas ASEAN,” ujar Matius.

Institut Leimena terus memperkuat kerjasama regional antara lain dengan pemerintah Singapura melalui Kementerian Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda Singapura dan S Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Ho Chi Minh National Academy of Politics di Vietnem, Kementerian Pendidikan Tinggi dan Universitas Islam Malaysia dan mitra pendidikan di Manila dan Mindanao, Filipina.

“Bapak dan Ibu guru adalah agen perubahan dan perdamaian. Kita harus mendorong anak-anak kita supaya mereka dapat hidup bersama dalam keberagaman di Indonesia,” tutup Matius. [IL/Chr]

Loading...