Menenun Harmoni dalam Kartu Digital : Kisah Kartu Ucapan Lintas Iman
“Awalnya aku takut salah pilih gambar untuk kartu Nyepi, tapi setelah tanya-tanya dan cari tahu, aku jadi paham maknanya. Rasanya senang banget waktu kartu itu dikirim ke saudara dan mereka bilang desainnya keren!” — Arelle, Siswa
Oleh: Ruth Evyana
Pada awal Februari 2026, nuansa baru begitu terasa di sebuah ruang laboratorium komputer SD Kristen Tritunggal Semarang. Laboratorium yang tenang itu kini diisi oleh puluhan siswa kelas 6 yang tampak serius di depan monitor masing-masing. Jari-jemari mereka lincah menggerakkan kursor di aplikasi desain grafis. Saat itu, mereka diberikan sebuah misi untuk membuat kartu digital berupa ucapan perayaan hari besar.
Ide kegiatan ini muncul dari sebuah pengamatan sederhana: jadwal hari raya besar di Indonesia—seperti Paskah, Nyepi, Idulfitri, dan Tahun Baru Imlek—ternyata jatuh dalam waktu yang berdekatan. Fenomena ini dipandang sebagai momen emas untuk melatih siswa berkolaborasi dan berempati secara lintas agama dan budaya.
Siswa tidak hanya diminta membuat desain yang bagus, tetapi mereka harus melakukan riset kecil tentang makna simbol-simbol pada setiap hari raya besar tersebut. Riset dilakukan agar siswa tidak salah dalam memilih dan penempatan elemen, sebab tantangan terbesar yang dihadapi adalah kekhawatiran siswa akan salah menggunakan simbol atau takut menyinggung perasaan teman yang berbeda keyakinan.
Dalam rangka mengatasi tantangan tersebut, pada awal kelas diadakan sesi diskusi terbuka. Guru memberikan penguatan bahwa niat baik yang diiringi dengan mau bertanya (bertukar informasi) adalah kunci dari literasi lintas budaya. Ketakutan itu pun berubah menjadi rasa ingin tahu yang sehat, dan siswa pun melakukan riset kecilnya. Sebagai contoh, siswa mencari tahu terlebih dahulu makna “ogoh-ogoh” untuk Nyepi, dan simbol “kuda” untuk tahun baru Imlek.
Selama kegiatan, suasana laboratorium penuh dengan diskusi hangat. Beberapa siswa pun baru menyadari bahwa di tengah-tengah mereka ada seorang teman yang beragama Hindu. Hal tersebut membuat para siswa semakin antusias dan membuka sedikit dialog lintas agama. Siswa beragama Kristen dengan rasa penasarannya, bertanya pada teman yang beragama Hindu tentang warna apa yang identik dengan Nyepi. Dialog pun dilanjutkan dengan saling melontarkan pertanyaan. Setelah desain selesai, kartu-kartu digital ini dikirimkan secara langsung melalui media sosial atau aplikasi pesan singkat kepada teman sebaya, saudara, atau guru yang merayakannya.
Beberapa kartu ucapan lintas iman yang didesain oleh siswa
Pasca kegiatan, ternyata para siswa merasakan yang namanya kepuasan batin. Ada rasa bangga saat kartu yang mereka buat mendapatkan balasan “terima kasih” yang hangat dari penerimanya. Mereka pun belajar bahwa teknologi bisa menjadi jembatan silaturahmi yang efektif, dan semua itu bisa dimulai dari sebuah ruang di sekolah.
“Baru ini saya menerima banyak ucapan Selamat merayakan Nyepi dari teman-teman sekelas”(sambil tersenyum lebar) — Prasadh, Siswa.
Saya meyakini bahwa di tengah dunia yang semakin tersekat oleh perbedaan, sekolah seharusnya menjadi laboratorium pertama untuk benih toleransi disemaikan. Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bukan sekadar teori dalam buku teks; ia adalah praktik menghargai martabat sesama manusia yang memiliki keyakinan berbeda. Melalui kartu ucapan sederhana, siswa belajar bahwa mengucapkan “selamat” tidak akan melunturkan iman, melainkan justru memperkokoh kemanusiaan.
Melalui kegiatan ini, saya ingin menyampaikan bahwa toleransi tidak lahir dengan sendirinya; ia harus diajarkan, dipraktikkan, dan dirasakan. Melalui aktivitas ini, pembaca diharapkan merasakan harapan bahwa masa depan Indonesia yang damai ada di tangan anak-anak yang mampu melihat perbedaan bukan sebagai tembok, melainkan sebagai pelangi yang memperindah kehidupan.
Sebagai pendidik kita harus peduli, mengingat pada setiap klik mouse dan setiap warna yang mereka pilih, ada doa untuk persatuan bangsa yang sedang mereka susun.
Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bukan sekadar teori dalam buku teks; ia adalah praktik menghargai martabat sesama manusia yang memiliki keyakinan berbeda.
Profil Penulis
Ruth Evyana
Alumni LKLB Angkatan 27
Guru, Sekolah Kristen Tritunggal, Semarang

0 Comments