Dari Belajar hingga Berbagi: Perjalanan Bersama LKLB

Penulis (Sulthon Najib) ketika menjadi fasilitator di Hybrid Upgrading Workshop di Jakarta pada 21 – 23 Agustus 2026.

Oleh: Sulthon Najib

Ketika Sebuah Perjumpaan Mengubah Cara Pandang

Perjalanan saya bersama Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dimulai pada 2022 melalui pertemuan daring. Dari sana, saya belajar bahwa LKLB bukan sekadar ruang menambah wawasan, tetapi juga ruang untuk memahami perbedaan, berdialog, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Pada 2025, saya berkesempatan menjadi peserta HUW. Perjumpaan langsung semakin mengajarkan saya bahwa perbedaan latar belakang dan cara pandang justru menjadi sumber pembelajaran.

Kini, pada 2026, saya dipercaya menjadi fasilitator. Perjalanan ini membawa saya dari mengenal, mengalami, hingga berbagi. Saya tidak lagi hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari LKLB?”, tetapi mulai bertanya, “Apa yang bisa saya berikan?”

Belajar Mendengarkan dan Memberdayakan

Menjadi fasilitator LKLB memberikan pengalaman yang berbeda. Jika sebelumnya saya belajar sebagai peserta, kini saya bertanggung jawab menciptakan ruang belajar bagi orang lain.

Saya belajar bahwa setiap peserta memiliki cara berbeda dalam berpartisipasi. Karena itu, saya perlu lebih banyak mendengarkan, memberikan pertanyaan pemantik, dan memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman.

Dari pengalaman ini, saya memahami bahwa fasilitasi bukan tentang seberapa banyak materi yang disampaikan, tetapi tentang bagaimana membantu orang lain menemukan dan membagikan pengetahuannya. Pengalaman tersebut juga mengubah cara pandang saya tentang kepemimpinan: bukan hanya tentang memberi arahan, tetapi juga mendengarkan, membangun kepercayaan, memberi ruang, dan memberdayakan orang lain.

Membawa Nilai LKLB ke Madrasah

Pelajaran dari perjalanan LKLB kemudian saya bawa kembali ke Madrasah Istiqlal Jakarta. Sebagai guru, saya berusaha memberikan ruang kepada peserta didik untuk bertanya, berdiskusi, mendengarkan perspektif yang berbeda, dan belajar bekerja sama. Pengalaman tersebut juga saya integrasikan ke dalam modul pembelajaran, sehingga nilai-nilai keberagaman, dialog, dan sikap saling menghargai tidak hanya menjadi materi, tetapi dapat dipraktikkan dalam proses belajar. Saya semakin memahami bahwa pendidikan moderasi bukan sekadar memahami keberagaman, melainkan mengalami dan mempraktikkannya dalam kehidupan bersama.

Pemahaman ini semakin kuat ketika saya terlibat dalam koordinasi kunjungan nasional dan internasional ke Madrasah Istiqlal Jakarta. Kunjungan tersebut bukan sekadar untuk mengenal fasilitas madrasah, tetapi untuk melihat secara langsung bagaimana insersi nilai-nilai moderasi diterapkan dalam praktik pendidikan.

Menariknya, penerapan tersebut tidak hanya terlihat pada satu program atau jenjang, tetapi dalam berbagai program di seluruh ekosistem Madrasah Istiqlal Jakarta, mulai dari Kelompok Bermain, RA, MI, MTs, hingga MA.

Dalam prosesnya, saya tidak hanya terlibat dalam koordinasi kunjungan, tetapi juga ikut menyusun dan menyiapkan materi yang memperkenalkan berbagai program serta praktik pendidikan di madrasah. Proses ini membuat saya kembali memahami nilai dan tujuan di balik setiap program yang kami jalankan.

Ketika pihak luar bertanya, “Bagaimana moderasi diterapkan di Madrasah Istiqlal?”, pertanyaan tersebut menjadi refleksi bagi saya bahwa moderasi tidak cukup menjadi tema kegiatan, tetapi perlu hadir dalam budaya, pembelajaran, pembiasaan, dan interaksi sehari-hari.

Bagi saya, pengalaman ini menjadi kelanjutan dari pembelajaran LKLB: membuka ruang dialog, belajar dari perbedaan, sekaligus berbagi praktik baik dengan pihak lain.

Dari Peserta hingga Fasilitator — Sebuah Perjalanan

Ketika melihat kembali perjalanan saya, 2022 menjadi awal ketika saya mengenal LKLB melalui Zoom, 2025 menjadi kesempatan untuk belajar lebih dekat sebagai peserta HUW, dan 2026 membawa saya pada peran baru sebagai fasilitator.

Perjalanan ini mengajarkan saya bahwa belajar tidak berhenti ketika sebuah pelatihan selesai. LKLB mengajarkan saya untuk terbuka terhadap perbedaan, pengalaman sebagai peserta mengajarkan saya untuk terus belajar dari orang lain, dan pengalaman sebagai fasilitator mengajarkan saya untuk berbagi serta memberdayakan.

Pada akhirnya, saya memahami bahwa moderasi bukan hanya sesuatu yang dipelajari atau diajarkan, tetapi sesuatu yang perlu dipraktikkan.

Pesan Penutup

Untuk para peserta dan fasilitator LKLB, teruslah belajar, terbuka pada perbedaan, dan saling menguatkan dalam setiap perjumpaan. Karena setiap proses belajar bukan hanya tentang apa yang kita terima, tetapi juga tentang apa yang dapat kita bagikan dan kontribusikan kepada sesama.

Perjalanan saya bersama Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dimulai pada 2022 melalui pertemuan daring. Dari sana, saya belajar bahwa LKLB bukan sekadar ruang menambah wawasan, tetapi juga ruang untuk memahami perbedaan, berdialog, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Profil Penulis

Sulthon Najib

Kasubag Humas & Marketing Madrasah Istiqlal Jakarta
Guru Bahasa Inggris
Alumni LKLB angkatan ke-6

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...