Delegasi dari Kementerian Pendidikan, Dasar, Tinggi, dan Teknis atau Minstry of Basic, Higher, and Technical Education (MBHTE) Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) mempelajari praktik Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) untuk perdamaian melalui penerapan Sekolah Gandong oleh SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al Hilal di Ambon, Maluku.
Jakarta, LKLB News – Delegasi dari Kementerian Pendidikan, Dasar, Tinggi, dan Teknis atau Minstry of Basic, Higher, and Technical Education (MBHTE) Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM), Filipina, melakukan observasi ke Indonesia dalam rangka mempelajari praktik pendidikan untuk merawat perdamaian di Maluku melalui pendekatan literasi keagamaan lintas budaya.
Delegasi BARMM yang terdiri dari tujuh peserta mengikuti mengikuti Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) untuk Perdamaian di Ambon, Maluku, pada 27-30 November 2025. Program LKLB untuk Perdamaian diadakan oleh Institut Leimena bekerja sama dengan Sasakawa Peace Foundation dan Yayasan Pembinaan Pendidikan Kristen (YPPK) Dr. JB. Sitanala, serta didukung oleh Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) dan Yayasan Sombar Negeri Maluku.
“Alasan paling utama mengapa kami mengunjungi Indonesia karena kami sedang membangun kurikulum pendidikan inklusif dan kami meyakini untuk bisa benar-benar inklusif bagi sekolah, guru, dan murid, maka kami harus mengajarkan bagaimana bersikap lebih menerima dan toleran terhadap perbedaan khususnya dalam hal agama,” kata Meriam Macalangcom, konsultan kurikulum dari MBHTE BARMM, di Ambon, 30 November 2025.
Delegasi BARMM mengunjungi dua sekolah di Ambon yang telah menerapkan praktik pendidikan LKLB untuk merawat perdamaian, yaitu SMA Kristen Rehoboth dan SMA Al-Hilal. Kedua sekolah ini menghadirkan para guru mereka untuk menceritakan pengalaman dalam berkolaborasi untuk mendeklarasikan Sekolah Gandong.
Filosofi pela gandong, sebagai warisan leluhur Maluku yang bermakna persaudaraan sejati di atas segala perbedaan, dihidupkan kembali melalui pendidikan. Siswa dari kedua sekolah yaitu siswa Muslim dari SMA Al Hilal dan siswa Kristen dari SMA Rehoboth tidak hanya saling mengunjungi, tetapi juga berkolaborasi dalam kegiatan sosial, lingkungan, dan budaya yang menanamkan nilai cinta kasih dan saling menghargai.
Kepala SMA Kristen Rehoboth, Salomina Patty, dan Kepala SMA Al-Hilal, Jaleha Sangaji, menjelaskan kepada delegasi MBHTE BARMM mengenai implementasi program LKLB untuk membangun perdamaian di Maluku yang pernah dilanda konflik berbasis agama.
Meriam mengatakan BARMM, yang diresmikan tahun 2019, sedang menyusun kurikulum pendidikan inklusif dalam konteks agama. Dia mengatakan situasi masyarakat Indonesia yang beragam sangat mirip dengan konteks masyarakat di wilayah otonomi Bangsamoro di sebelah Selatan Filipina. Bangsamoro terdiri dari rasio 70% umat Muslim dan 30% umat beragama lainnya.
“Kami ingin belajar bagaimana Indonesia mampu mencapai kohesi dan bangkit dari konflik di sini (Maluku). Saya merasa sangat dekat dengan Indonesia, bukan hanya kemiripan wajah, tapi masyarakat Indonesia juga penuh kasih dan hangat,” ujarnya Meriam.
Dalam kunjungan ke Indonesia kali ini, delegasi BARMM yang hadir merupakan konsultan kurikulum, pengawas dan kepala sekolah dengan latar belakang agama berbeda-beda. Mereka menegaskan harapan kuat agar hubungan Indonesia dan Filipina, termasuk Pemerintah Bangsamoro sebagai sub-sistem pemerintah Filipina, semakin diperkuat melalui kerja sama pendidikan, diplomasi, dan pertukaran akademik khususnya.
Ketua delegasi pendidikan BARMM, Abdulbasit Lingcoan, didampingi Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, melakukan audiensi dengan Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rusprita Putri Utami.
Abdulbasit Lingcoan, sebagai ketua delegasi sekaligus spesialis program pendidikan di Divisi Kurikulum MBHTE BARMM, mengatakan pengalaman mengikuti Program LKLB untuk Perdamaian selama lima hari dengan menyaksikan bagaimana para guru berdiskusi, diisi materi tentang peran guru dan perdamaian, serta melakukan kunjungan rumah ibadah sebagai pengalaman yang sangat membuka mata.
“Hal yang baik tentang Indonesia adalah keterbukaan untuk membahas berbagai hal termasuk agama, dan itu memberikan kami gambaran bagaimana kami menjadikannya bagian dari platform pendidikan,” kata Abdulbasit.
Abdulbasit menjelaskan saat ini BARMM sedang berada puncak reformasi kurikulum pendidikan. Sehingga pemerintahnya membutuhkan pembelajaran dari negara lain yang memiliki dinamika keberagaman yang serupa. Struktur pendidikan di BARMM itu unik karena menggabungkan pendidikan dasar, tinggi, teknis serta madrasah dalam satu kementerian. Di tingkat regional, struktur pendidikan yang unik ini hanya ada di wilayah otonomi Bangsamoro.
“Kurikulum di BARMM menekankan pendidikan inklusif yang mengintegrasikan pendidikan Islam bersama agama lain, sehingga pertukaran pengetahuan dengan Indonesia menjadi sangat relevan. Dalam proses pengembangan kurikulum, keberagaman benar-benar menjadi bagian pendidikan,” kata Abdulbasit.
Delegasi pendidikan BARMM bersama Institut Leimena juga melakukan audiensi dengan Direktorat Diplomasi Publik dan Direktorat Asia Tenggara Kementerian Luar Negeri.
Audiensi Kemenlu dan Kemendikdasmen
Sebelum bertolak ke Ambon, delegasi BARMM juga melakukan audiensi dengan pemerintah Indonesia di Jakarta pada 26 November 2025. Mereka melakukan pertemuan dengan Minister Counsellor Direktorat Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Washiku Sunani Ali Asrori, dan Minister Counsellor Direktorat Asia Tenggara Kemenlu, Lauti Nia Astri, serta bertemu dengan Kepala Pusat Penguatan Karakter Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rusprita Putri Utami.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan audiensi delegasi BARMM dengan Kemenlu dan Kemendikdasmen bertujuan saling berbagi pengalaman dengan negara di Asia Tenggara, termasuk Filipina, terutama karena tahun ini “literasi keagamaan lintas budaya” sudah dimasukkan sebagai salah satu strategi ASEAN untuk 20 tahun ke depan untuk membangun komunitas ASEAN yang inklusif dan kohesif.
“Negara-negara ASEAN punya kemiripan karena kita majemuk dari sisi agama, suku, budaya. Jadi kalau Indonesia mau aman, damai, maju, tidak hanya Indonesia saja, sesama tetangga di ASEAN harus bisa seperti itu, harus sama-sama damai, bekerja sama karena itu spirit ASEAN,” kata Matius.
Menurut Matius, Program LKLB untuk Perdamaian bertujuan memperkuat kohesi dan keharmonisan masyarakat khususnya komunitas Islam dan Kristen di Maluku yang memiliki trauma konflik masa lalu. Tantangan masyarakat Maluku dalam membangun perdamaian bisa berguna untuk delegasi dari BARMM yang juga dibayangi konflik sosial sampai akhirnya berdiri sebagai daerah otonomi.
“Penggunaan musik sebagai tambahan pedagogi dalam program di Ambon bisa mengena untuk Filipina karena musik juga menjadi bagian penting dalam masyarakat mereka,” kata Matius.
Kepala Puspeka, Rusprita Putri Utami, mengatakan Indonesia dan Filipina memiliki kemiripan konteks sosial, mulai dari jumlah penduduk yang besar, keberagaman etnis, hingga ragam bahasa daerah yang luas. Keberagaman ini menjadi kekuatan sekaligus tantangan dalam memastikan pemerataan pendidikan dan penguatan karakter pelajar di dua negara.
“Kondisi ini menjadi kekuatan kedua bangsa kita, tetapi di sisi lain memiliki potensi perpecahan dan konflik sosial. Keberagaman juga menjadi tantangan di semua negara di kawasan ASEAN,” kata Rusprita. [IL/Chr]
