
Para peserta, narasumber, dan fasilitator dalam Temu Wicara I: Insersi Kurikulum Cinta dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dengan Pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan 14-16 Mei 2025.
Jakarta, LKLB News – Institut Leimena bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Kementerian Agama (Kemenag), serta perwakilan dari sembilan sekolah dan lima perguruan perguruan tinggi, melakukan pertemuan untuk menyiapkan integrasi Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) ke dalam kurikulum. Pertemuan itu bertujuan menyiapkan model-model pembelajaran dengan pendekatan LKLB ke dalam kurikulum yang diterapkan pemerintah saat ini yaitu Kurikulum Cinta, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, dan metode pembelajaran mendalam (deep learning).
Para narasumber yang hadir yaitu Dr. Farid F. Saenong (Koordinator Staf Khusus Menteri Agama), Prof. Dr. Nyayu Khadijah (Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan Madrasah, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kemenag RI), Arif Jamali Muis (Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI), Dr. Kosasih Ali Abu Bakar (Analis Kebijakan Ahli Madya Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI), Prof. Dr. Amin Abdullah (Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila/BPIP), Dr. Henriette T. Hutabarat Lebang (Presidium Dewan Gereja-gereja Sedunia), dan Dr. Sarlota Singerin (Ketua Umum Yayasan Pengembangan Pendidikan Kristen Dr. J.B. Sitanala, Ambon).
“Begitu banyak program di dalam pemerintahan dari Kementerian Agama maupun Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, yang semuanya baik dan ternyata LKLB bisa sejalan dan bisa ikut mendukung kesuksesan program-program pemerintah,” kata Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, dalam pertemuan bertajuk “Temu Wicara I: Insersi Kurikulum Cinta dan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat dengan Pendekatan LKLB” pada 14 Mei 2025.
Temu wicara yang diadakan selama tiga hari pada 14-16 Mei tersebut, adalah kegiatan pertama dalam rangkaian insersi LKLB ke dalam kurikulum atau pembelajaran. Para peserta Temu Wicara I sebanyak 30 orang terdiri dari rektor, dekan, dosen, kepala sekolah atau madrasah, dan guru yang merupakan mitra dan alumni pelatihan LKLB. Sebagai lanjutan, Temu Wicara II akan diadakan dalam waktu dekat pada 30 Juli-1 Agustus 2025.
Pimpinan perguruan tinggi yang hadir dalam Temu Wicara I antara lain Rektor Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Prof. Dr. Yance Z Rumahuru, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Dr. Abidin Wakano, Rektor UIN Datokarama Palu, Sulawesi Tengah, Prof. Dr. H. Lukman S Thahir, Wakil Rektor I Bidang Akademik Universitas Islam As’adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan, Dr. Ahmad Muktamar B, dan Ketua Lembaga Penjamin Mutu Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Dr. Ali Mustofa.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, memberikan sambutan dalam pembukaan Temu Wicara Insersi Kurikulum, 14 Mei 2025.
Di tingkat madrasah dan sekolah, dihadiri antara lain Kepala SMA Muhammadiyah 1 Magelang, Icuk Salabiyati, Kepala SMAS Kristen Rehoboth Ambon, Salomina Patty, Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal Semarang, Yonathan Djalimun, Kepala SMK Al-Achyar Banyuwangi, Zulfar Rohman, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum Madrasah Aliyah (MA) Al-Manar Semarang, Rohmat Hidayat, serta guru dari MAN 1 Magetan, Sekolah Kristen Gloria Surabaya, dan MAS As’adiyah Putri Pusat Sengkang.
“LKLB intinya bagaimana kita membangun rasa saling percaya, saling menghormati satu dengan lainnya walaupun berbeda. Nampaknya sesuatu yang sederhana, tapi untuk bisa dilakukan dalam skala besar dan secara berkelanjutan maka perlu dibuatkan pendekatan sistematis. Itulah yang coba kita lakukan bersama,” kata Matius.
Matius menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran narasumber maupun peserta dari berbagai sekolah dan perguruan tinggi, yang bersedia memikirkan bersama-sama bagaimana program LKLB bisa semakin berdampak kepada dunia pendidikan di Indonesia. Menurutnya, temu wicara yang diadakan merupakan langkah lanjutan dari kerja sama program LKLB selama ini.
“Sebetulnya ini membutuhkan komitmen jangka panjang, tapi kami percaya, justru kita lakukan bersama karena inilah hal yang baik untuk komunitas kita, masyarakat kita, bangsa dan negara,” lanjut Matius.
Pelaksanaan temu wicara menghasilkan sejumlah gagasan dari para peserta, antara lain di tingkat perguruan tinggi, yaitu melakukan insersi Kurikulum Cinta dan LKLB dalam mata kuliah, dan melakukan kegiatan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang menginsersikan Kurikulum Cinta dan LKLB.
Di tingkat sekolah/madrasah, gagasan yang muncul antara lain insersi Kurikulum Cinta dan LKLB dalam mata pelajaran dan insersi Kurikulum Cinta dalam program kokurikuler. Selain itu, baik perguruan tinggi maupun sekolah, akan melakukan penyusunan buku terdiri dari model-model implementasi Kurikulum Cinta dengan pendekatan LKLB. [IL/Chr]