
Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Kebebasan Beragama Internasional, Rashad Hussein, dalam Webinar Internasional yang diadakan Kementerian Agama RI, Institut Leimena, Voice of Istiqlal, dan Nasaruddin Umar Office, Selasa, 17 Juni 2025.
Jakarta, LKLB News – Ketika dunia terus diguncang oleh konflik yang tak berkesudahan, pendidikan harus terus disuarakan sebagai upaya menanamkan benih-benih perdamaian. Mantan Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Kantor Kebebasan Beragama Internasional, Rashad Hussein, mengapresiasi pekerjaan Institut Leimena melalui program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) karena dianggap mampu mendorong perdamaian lewat peran guru dan pendidik.
“Jika kita memiliki sistem pendidikan yang baik di seluruh dunia, itu akan membantu menyelesaikan banyak masalah, bahkan sebelum masalah itu muncul ke permukaan,” kata Hussein dalam Webinar Internasional dalam rangka Hari Internasional Melawan Ujaran Kebencian bertemakan “Menata Kata, Menebarkan Cinta: Mempromosikan Kolaborasi Lintas Iman dalam Melawan Ujaran Kebencian”, Selasa, 17 Juni 2025.
Hussein menegaskan pendekatan kriminalisasi terhadap ujaran kebencian justru sering menjadi bumerang karena menarik perhatian lebih besar kepada pelaku dan konten kebenciannya. Sebaliknya, AS mendorong pendekatan yang menyasar akar masalah melalui peningkatan pendidikan dan kesadaran media, serta menuntut pertanggungjawaban hukum atas kekerasan fisik terhadap sasaran ujaran kebencian.
Hussein mengapresiasi inisiatif Institut Leimena dalam pelaksanaan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) termasuk melalui Webinar Internasioanl Seri LKLB yang diadakan bersama Kementerian Agama RI, Voice of Istiqlal, dan Nasaruddin Umar Office.
“Anda sungguh sedang menanam benih-benih perdamaian,” katanya.
Hussein mengingatkan bahwa benih perdamaian hanya akan tumbuh jika ditanamkan dalam ruang yang penuh dialog terbuka dan inklusif. Di berbagai negara, benih perdamaian gagal bertumbuh karena pendekataan terhadap ujaran kebencian justru bersifat represif.
“Hal ini sejalan dengan strategi nasional AS dalam mengatasi Islamofobia, yang berfokus pada edukasi, penguatan hukum anti-diskriminasi, dan melindungi keselamatan publik termasuk tempat ibadah, dan pemberdayaan suara kelompok minoritas,” kata Hussein, sebagai Muslim pertama yang pernah menjabat Dubes AS untuk Kebebasan Beragama Internasional.

Program pendidikan Literasi Keagamaan Lintas Budaya, memberikan kesempatan kepada peserta untuk berinteraksi dengan pemeluk agama yang berbeda dalam rangka memperkuat empati dan kolaborasi, salah satunya melalui kegiatan Hybrid Upgrading Workshop.
Rashad Hussein juga mengungkapkan bahwa undang-undang untuk menghukum perkara penodaan agama sangat rentan untuk disalahgunakan. “Kita memiliki hukum yang justru menyakiti komunitas minoritas dan dalam banyak kasus menjadi pembenaran bagi diskriminasi dan kekerasan,” katanya.
Oleh sebab itu, ia mengusulkan untuk melakukan pendekatan alternatif menangani masalah ini, tak lain melalui pendidikan.
“Tingkatkan kualitas pendidikan, seperti yang anda lakukan di Institut Leimena. Tingkatkan kesadaran media dan berikan pelatihan. Pastikan pemerintah menindak tindak kekerasan yang nyata, bukan hanya ujaran,” lanjutnya.

Kepala Satgas Dialog Kebudayaan dan Agama Kementerian Luar Negeri Republik Austria, Alexander Rieger, memaparkan contoh upaya membangun perdamaian di Austria.
Contoh dari Austria
Sementara itu, Kepala Satgas Dialog Kebudayaan dan Agama Kementerian Luar Negeri Republik Austria, Alexander Rieger, menegaskan pentingnya gerakan berbasis komunitas di luar pemerintah untuk menciptakan perdamaian. Menurutnya, komunitas agama bukanlah penonton pasif, melainkan memiliki posisi unik untuk memupuk dialog etis menjadi tindakan nyata.
Reiger memperkaya pemaparannya dengan menceritakan pengalaman inspiratif dari Austria. “Pada 2012, ada enam belas komunitas agama yang diakui secara legal di Austria bersama-sama membentuk sebuah platform bersama. Platform ini aktif mengeluarkan pernyataan bersama dan tampil ke publik sebagai suara nurani yang bersatu,” tuturnya.
Platform seperti itulah, sebut Reiger, yang berperan penting mewujudkan dialog etis menjadi aksi nyata untuk mengatasi berbagai tantangan sosial. Melalui platform tersebut, komunitas-komunitas agama dapat membentuk iklim moral yang positif bagi suatu bangsa.
“Mereka (komunitas agama) bukan hanya memberi panduan spiritual, tetapi juga menyuarakan bahasa rekonsiliasi, menjadi ruang penyembuhan, dan tempat berbagi visi untuk hidup berdampingan secara damai,” ujar Reiger.
Di sisi lain, Reiger menekankan pentingnya peran guru sebagai agen perdamaian, sehingga perlu dibekali serangkaian pendidikan khusus.
“Guru perlu dilatih dalam pendidikan agama, literasi lintas agama, dan bagaimana menciptakan kelas yang berlandaskan empati dan saling menghormati,” kata Reiger.
Reiger menyebut guru sebagai pelipat ganda nilai budaya (cultural multipliers), bukan sekedar agen untuk mentransfer informasi. Artinya, apa yang ditanamkan oleh guru di kelas akan menentukan masa depan masyarakat kelak. [IL/Zul/Chr]