Oleh: Ruth Evyana

Sebuah pot hias seringkali bukan sekadar wadah tanah, melainkan sebuah ekosistem kecil yang menceritakan tentang keindahan dalam perbedaan. Di dalam pot segi enam yang tertata rapi tersebut, kita melihat tiga jenis tanaman yang hidup berdampingan dengan anggun yaitu Lidah Mertua (Sansevieria) yang tumbuh tegak menjulang, Aglaonema yang berdaun lebar dan berwarna cerah di tengah, serta Fittonia yang kecil dan merambat indah sebagai penutup dasar. Secara botanis, mereka adalah entitas yang berbeda, namun secara estetika dan fungsional, mereka adalah satu kesatuan yang harmonis.

Sinergi dalam Perbedaan Biologis

Ketiga tanaman ini dapat tumbuh bersama karena adanya kesamaan kebutuhan dasar sekaligus perbedaan peran fisik. Lidah Mertua berperan sebagai thriller (pemberi struktur tegak), Aglaonema sebagai filler (pengisi ruang), dan Fittonia sebagai spiller (penutup permukaan). Mereka mampu berbagi ruang karena memiliki toleransi yang serupa terhadap intensitas cahaya yang moderat dan kelembaban yang terjaga. Mereka tidak saling mematikan; sebaliknya, keberadaan Lidah Mertua yang tinggi memberikan sedikit naungan bagi Fittonia yang lebih sensitif di bawahnya. Inilah yang disebut sebagai simbiosis dalam sebuah wadah terbatas.

Analogi Masyarakat Plural dan Literasi Keagamaan

Keberadaan tanaman-tanaman ini merupakan analogi sempurna bagi masyarakat plural. Pot tersebut melambangkan sebuah bangsa atau komunitas, sementara jenis tanaman yang berbeda mewakili keberagaman agama, suku, dan budaya. Di sinilah Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) memainkan peran krusialnya sebagai “panduan sang tukang kebun”.

LKLB menekankan tiga kompetensi utama yang tercermin dalam pot tersebut, yaitu :

1. Kompetensi Pribadi (Akar yang Kuat): Setiap tanaman dalam pot tersebut tetap mempertahankan jati dirinya. Lidah Mertua tidak berusaha menjadi Fittonia. Dalam masyarakat, LKLB menuntut seseorang untuk memahami dan meyakini ajaran agamanya sendiri secara mendalam. Tanpa akar yang kuat pada identitaspribadi, seseorang akan mudah goyah atau justru merasa terancam oleh kehadiran “tanaman” lain.

2. Kompetensi Komparatif (Mengenali Keindahan Daun Lain): Kita mengagumi pot tersebut justru karena perbedaan corak antara gurat putih Fittonia dan tepian kuning Lidah Mertua. LKLB mengajak kita untuk tidak sekadar “tahu” bahwa ada agama lain, tetapi mampu melihat nilai-nilai kebaikan dan keindahan di dalam perspektif orang lain tanpa harus merasa iman kita luntur. Ini adalah kemampuan untuk menghargai bahwa “daun” yang berbeda memiliki cara unik untuk menangkap cahaya kebenaran.

3. Kompetensi Kolaboratif (Tumbuh di Tanah yang Sama): Rahasia pertumbuhan mereka adalah media tanam yang sama. Dalam kehidupan bernegara, media tanam ini adalah nilai-nilai kemanusiaan, Pancasila, dan komitmen pada perdamaian. LKLB mendorong individu untuk bekerja sama
melintasi batas iman demi kesejahteraan bersama (proyek kemanusiaan), persis seperti akar-akar tanaman tersebut yang bersama-sama menjaga kepadatan tanah agar tidak mudah terkikis.

Keindahan sejati dari pot tanaman tersebut muncul bukan karena keseragaman, melainkan karena setiap tanaman diberi ruang untuk menjadi dirinya sendiri sambil berbagi nutrisi yang sama. Masyarakat yang memiliki Literasi Keagamaan Lintas Budaya yang baik tidak akan memaksa “Lidah Mertua” menjadi “Aglaonema”.

Sebaliknya, mereka akan memastikan bahwa setiap individu, dengan segala keunikan teologis dan budayanya, memiliki akses yang sama terhadap “cahaya” keadilan dan “air” kesejahteraan. Dengan LKLB, perbedaan tidak lagi dipandang sebagai benih konflik, melainkan sebagai komposisi yang memperkaya taman kehidupan kita bersama.

Mereka mampu berbagi ruang karena memiliki toleransi yang serupa terhadap intensitas cahaya yang moderat dan kelembaban yang terjaga. Mereka tidak saling mematikan; sebaliknya, keberadaan Lidah Mertua yang tinggi memberikan sedikit naungan bagi Fittonia yang lebih sensitif di bawahnya.

Profil Penulis

Ruth Evyana

Alumni LKLB Angkatan 27

Guru Sekolah Kristen Tritunggal

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...