Senior Fellow Pepperdine University, Amerika Serikat, Knox Thames (kedua dari kiri), menerima suvenir dari The Voice of Istiqlal yang diwakili Faried Saenong, yang juga Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI, bersama Nadjimitdinov Jasur Khatamjanovich selaku Scientific Secretary dari International Scientific Research Center, Imam Maturidi, Uzbekistan, dan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho.
Jakarta, LKLB News – Di dalam masyarakat majemuk, situs-situs keagamaan justru bisa berfungsi strategis untuk memajukan pluralisme dan merekatkan toleransi lintas agama. Situs keagamaan, termasuk diantaranya tempat ibadah berbagai agama, justru sering diabaikan menjadi sarana membangun perdamaian di tengah meningkatnya nasionalisme religius dan perpecahan.
Hal itu disampaikan oleh Senior Fellow Pepperdine University, Amerika Serikat, Knox Thames, dalam diskusi yang diadakan oleh The Voice of Istiqlal bekerja sama dengan Institut Leimena, dengan judul “Religious and Cultural Sites for Promoting Social Trust” di Jakarta, 13 November 2025. Diskusi ini menghadirkan sejumlah narasumber internasional yang juga merupakan pembicara dalam International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) pada 11-12 November 2025.
“Tempat-tempat suci menawarkan ruang spiritual dan sosial yang mampu menumbuhkan pemahaman lintas iman dan budaya secara personal, lokal dan berkelanjutan. Situs keagamaan dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan pluralisme,” kata Thames dalam acara yang diadakan di China Space, Masjid Istiqlal.
Knox Thames mengatakan tempat suci seperti masjid, gereja, sinagoga, mempunyai potensi besar untuk mendorong penghormatan terhadap perbedaan dan hak asasi manusia. Namun, tantangan yang dihadapi semua negara yaitu perbedaan keyakinan atau agama, budaya dan cara beribadah berbagai kelompok masyarakat dapat menimbulkan ketakutan dan memicu masalah.
Dalam penelitiannya, Thames menemukan tiga hal penting. Pertama, setiap komunitas di dunia memiliki sejarah keberagaman dalam bentuk apa pun. Kedua, setiap komunitas sedang berjuang menghadapi keberagaman hingga saat ini. Ketiga, setiap komunitas memiliki tempat suci yang dapat berperan positif dalam memajukan pluralisme.
“Tantangan lain yang dihadapi dunia saat ini adalah nasionalisme agama, yaitu gagasan bahwa pemerintah harus menerapkan satu keyakinan menjadi hukum negara,” ujar Thames.
Dialog yang diadakan oleh The Voice of Istiqlal ini menyoroti menyoroti peran penting situs suci dalam mempromosikan pluralisme, toleransi, dan pemahaman lintas agama.
Thames memberikan sejumlah contoh situs suci untuk mempromosikan pluralisme dan menjadi model kohesi lintas keagamaan dan budaya antara lain Adam’s Peak di Sri Lanka, makam Nabi Nahum, di kota Alqosh, Irak Utara, dan Makam Daniel di Uzbekistan yang dikunjungi umat Muslim, Kristen, dan Yahudi. Di Indonesia, ia menyoroti keberadaan Terowongan Silaturahmi yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Jakarta sebagai model kohesi lintas agama yang patut dicontoh dunia.
Thames menambahkan contoh lainnya berada di Kota Kuno Mosul, Irak Utara, ketika ISIS menghancurkan masjid tua dan menaranya, serta dua gereja bersejarah. PBB dan pemerintah Uni Emirat Arab membangun kembali masjid dan gereja tersebut dengan melibatkan arsitek Muslim dan Kristen.
“Pemuda dari kedua komunitas agama tersebut, bekerja bersama-sama mengumpulkan batu-batu reruntuhan. Proses rekonstruksi kedua tempat suci tersebut menjadi pengalaman lintas iman yang sangat menyatukan,” ujarnya.
Ada juga gerakan Pramuka di Tunisia membersihkan pemakaman Yahudi yang lama terbengkalai. Selain itu, Abrahamic Family House di Abu Dhabi yang mempertemukan tiga agama yang di dalamnya ada bangunan masjid, gereja dan sinagoga berdiri berdampingan. Di Amerika sendiri ada tempat bernama Sharing Sacred Spaces. Tempat ini menyelenggarakan kunjungan lintas agama ke tempat-tempat ibadah di mana pemuka agama menjelaskan teologi arsitektur tempat ibadahnya.
“Saya berharap, tempat suci anda dapat digunakan untuk mendorong toleransi dan pemahaman antarumat beragama untuk menumbuhkan kepercayaan sosial, dan mempromosikan perdamaian,” kata Thames.
Nadjimitdinov Jasur Khatamjanovich, Scientific Secretary International Scientific Research Center, Imam Maturidi, Uzbekistan.
Kedekatan Indonesia dan Uzbekistan
Sementara itu, Nadjimitdinov Jasur Khatamjanovich selaku Scientific Secretary dari International Scientific Research Center, Imam Maturidi, Uzbekistan, mengatakan Indonesia dan Uzbekistan memiliki kedekatan historis dan spiritual. Kedua negara memiliki tradisi ziarah dan situs keagamaan yang berpengaruh. Uzbekistan menjadi tanah kelahiran para ulama dan ilmuwan besar Muslim seperti Imam al-Bukhari, Ibnu Sina, al-Biruni, dan tokoh-tokoh tasawuf seperti Bahauddin Naqsyaband.
“Meski lebih homogen dibanding Indonesia, Uzbekistan secara historis merupakan wilayah tempat berbagai agama pernah hidup berdampingan, mulai dari agama kuno Zoroastrianisme hingga Yahudi, Buddha, Islam dan Kristen,” kata Khatamdjanovich.
Sejarah keagamaan di Uzbekistan dibuktikan dengan banyaknya situs suci yang kerap menjadi tempat ziarah para penganut berbagai agama. Ia mencontohkan situs kuno Zoroastrianisme, beberapa situs suci agama Buddha yang sedang direstorasi seperti stupa Buddha di situs kuno Dalvarzin Tepe dan Karatepa dekat kota kuno Termez.
Selain itu ada pula Makam Nabi Daniel di Samarkand yang menjadi tempat ziarah penganut Islam, Kristen dan Yahudi. Selain situs suci, ia mengungkapkan Masjid di negaranya juga menjadi tempat yang terbuka bagi penganut agama lain.
Menurut Khatamdjanovich, Pemerintah Uzbekistan melakukan dua pendekatan untuk mendorong kepercayaan sosial yaitu secara vertikal melalui Pembangunan Pusat Peradaban Islam di Tashkent sebagai ruang edukasi lintas agama. Selain itu, secara horisontal melalui kegiatan-kegiatan publik seperti Pekan Toleransi yang melibatkan masjid dan gereja bertepatan dengan Hari Toleransi Internasional tanggal 16 November.
“Menurut saya, Literasi Keagamaan Lintas Budaya sangat kami butuhkan sebagai negara pasca-Soviet yang masih memulihkan luka sejarah. Pengalaman Indonesia, khususnya untuk program LKLB, sangat relevan untuk kami pelajari,” katanya.
Farid Saenong, Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI dan pengurus The Voice of Istiqlal.
Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI, Faried Saenong, membagikan pengalamannya sebagai Imam Masjid Kilbirnie di Wellington, Selandia Baru Tragedi Christchurch 2019, menjadi titik penting bagaimana masyarakat Selandia Baru menempatkan masjid sebagai bagian dari aset publik yang harus dilindungi dan melahirkan empati luar biasa dari komunitas masyarakat yang berbeda agama dan budaya.
“Empati luar biasa dari masyarakat berupa bunga, pesan cinta, dan solidaritas dari berbagai agama dapat terjadi karena hubungan jangka panjang yang dibangun masjid dengan komunitas masyarakat setempat. Ini bukti bahwa tempat suci, termasuk masjid, mampu membangun kepercayaan sosial dan lintas iman,” kata Faried.
Faried mengaku belajar dari sejumlah gereja di Wellington yang membuka ruang bagi tuna wisma agar mendapatkan makanan dan tempat untuk tidur. “Di Istiqlal, kami mencoba mengembangkan layanan-layanan seperti itu. Masjid Istiqlal terus berkembang sebagai pusat kohesi sosial, mulai dari hostel untuk musafir, ruang kreatif bagi anak muda, pusat bahasa, hingga Istiqlal Halal Center untuk pemberdayaan ekonomi,” ujarnya.
Direktur Eksekutif Institus Leimena Matius Ho menegaskan situs keagamaan bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan bagian hidup dari masyarakat. Dalam Program LKLB, para guru juga diperkuat dengan kompetensi komparatif, yang salah satunya mengenal tempat ibadah agama lain, bahkan sejumlah guru alumni juga berinisiatif saling mengujungi tempat ibadah agama yang berbeda untuk memperkuat saling pemahaman dan penghormatan lintas agama.
“Situs-situs suci sangat relevan sebagai pusat pembelajaran sosial untuk memperkuat kohesi bangsa,” kata Matius. [IL/Chr]
