Lebih dari Sekadar Tugas: Menemukan Keluarga dalam Keberagaman

Penulis (Rohmat Hidayat) ketika menjadi fasilitator di Hybrid Upgrading Workshop di Surabaya pada 6-8 Februari 2026.

Oleh: Rohmat Hidayat

Pengalaman bergabung di komunitas belajar LKLB membawa perubahan yang mendasar, yaitu paradigma berpikir yang lebih bermakna. Maksud dari paradigma ini adalah pergeseran cara melihat sesuatu: dari fokus pada “Apa yang saya dapat” menjadi “Apa yang bisa saya pelajari, berikan, dan ciptakan.”

Perubahan Paradigma dalam Tindakan

Seiring berjalannya waktu, perubahan ini mulai terasa karena paradigma berpikir menentukan tindakan. Ketika saya mengubah cara pandang terhadap suatu masalah, saya menemukan jalan-jalan baru yang sebelumnya tidak terlihat. Hal ini memungkinkan saya menciptakan peran dan kontribusi sendiri, bahkan dalam situasi yang tampak tidak mendukung sekalipun.

Sebagai contoh, mari kita lihat perbedaannya dalam kasus pekerjaan:

  • Berpikir Biasa: Berfokus pada bagaimana cepat menyelesaikan pekerjaan agar bisa segera istirahat dan liburan; tidak lebih dari itu.
  • Berpikir Lebih Bermakna: Mengajukan pertanyaan seperti, “Apa nilai tambah yang bisa saya berikan?” atau “Apa ilmu baru yang bisa saya dapatkan dari pekerjaan ini?”

Hasilnya: Kualitas pekerjaan dengan paradigma bermakna akan jauh lebih baik, dan secara pribadi, saya bisa terus berkembang. Saya menyadari bahwa perubahan paradigma ini bukan hanya mengubah cara saya bekerja, tetapi juga mengubah seluruh makna pengabdian saya sebagai seorang guru.

Inovasi: Keberanian untuk Menciptakan

Bergabung di LKLB mampu melahirkan sebuah Inovasi Baru, yaitu sebuah ide segar yang diwujudkan menjadi kenyataan dan memberikan dampak positif yang lebih besar.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa keberhasilan adalah ketika saya diakui dan dilibatkan. Namun sekarang, saya menyadari bahwa keberhasilan adalah ketika saya dapat memberikan manfaat, apa pun posisi dan situasinya. Inovasi tidak lahir dari keterlibatan yang diberikan orang lain, tetapi dari keberanian untuk menciptakan solusi sendiri.

Contoh Penerapan Konkret: Salah satu perwujudannya adalah ide kolaborasi saya mewakili sekolah untuk merencanakan kolaborasi yang berbeda dengan SMA Kristen Tritunggal Semarang. Ide ini berhasil kami wujudkan menjadi kenyataan dan, yang tidak kalah pentingnya, menjadi percontohan bagi alumni LKLB lainnya.

Pengalaman Menjadi Fasilitator LKLB

Di dalam komunitas belajar LKLB ini, saya mendapatkan banyak kepercayaan dari Institut Leimena, salah satunya sebagai Fasilitator.

Menjadi fasilitator LKLB adalah pengalaman yang mengubah cara pandang saya tentang pengabdian dan berbagi. Apa yang saya dapatkan ternyata jauh lebih banyak daripada apa yang saya berikan. Saya belajar bahwa berbagi ilmu dan pengalaman bukanlah tanda kelemahan, melainkan tanda kekuatan.

Tujuan sebagai fasilitator adalah menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri pada orang lain. Saya tidak lagi berperan sebagai orang yang paling tahu, melainkan sebagai orang yang memfasilitasi proses pertukaran pengetahuan dan pengalaman.

Saya belajar bahwa menjadi fasilitator tidak perlu menjadi orang yang paling pintar dalam segala hal. Yang paling penting adalah kemampuan kita untuk menciptakan ruang di mana setiap orang dapat mengeluarkan potensi terbaiknya, berbagi dengan sesama, dan tumbuh bersama-sama. Inilah yang membuat peran fasilitator menjadi sangat berharga dalam proses pengembangan diri.

Sebelumnya, saya berpikir bahwa keberhasilan adalah ketika saya diakui dan dilibatkan. Namun sekarang, saya menyadari bahwa keberhasilan adalah ketika saya dapat memberikan manfaat, apa pun posisi dan situasinya.

Profil Penulis

Rohmat Hidayat

Wakil Kepala Sekolah, Madrasah Diniyah Al Manar Tengaran

Alumni LKLB angkatan ke-5

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...