Merajut Kembali Tali Pela: Catatan dari SMA Muhammadiyah Ambon dan SMA Kristen YPKPM Ambon
“Secara pribadi, saya menemukan hal yang menyentuh hati: melalui inisiatif ini, siswa dapat mempererat tali persaudaraan sehingga mereka mampu bekerja sama satu sama lain.” — Amirudin Rumagia
Oleh: Amirudin Rumagia
“Berbeda Satu Rasa” merupakan tema yang kami angkat dalam sebuah langkah nyata kolaborasi antarumat beragama. Kami menamakan kegiatan tersebut dengan “Sekolah Pela” yang memiliki harapan untuk mempererat tali persaudaraan. Program ini merupakan bentuk kunjungan dan kolaborasi budaya antara SMA Kristen YPKM Ambon dan SMA Muhammadiyah Ambon.
Kerja sama antara SMA YPKPM Ambon dan SMA Muhammadiyah Ambon sendiri telah dimulai sejak tahun 2020. Pada momen ini, kami kembali menguatkan hubungan tersebut melalui kegiatan kolaborasi pada tanggal 16 Mei 2025. Kami berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai persaudaraan melalui berbagai agenda.
Pertama, angkat sumpah “Pela Gandong” yang mengangkat atau mengikrarkan kembali sumpah leluhur. Ini adalah komitmen sakral untuk saling membantu, melindungi, dan menganggap warga dari sekolah/desa mitra sebagai saudara kandung sendiri.
Kedua, melaksanakan buka puasa bersama. Kegiatan yang biasanya hanya dilakukan oleh umat Islam saja, namun kami berinisiatif mengundang saudara dari umat agama lain. Buka puasa bersama pun menjadi sarat akan makna, dan hikmah persaudaraan lintas agama.
Ketiga, menggelar pentas seni. Tarian Sambra (tarian tradisional bernuansa Islami yang populer), Tari Lenso, hingga saling berbalas pantun tentang toleransi beragama menjadi isi dari pentas seni yang kami gelar. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa ungkapan persaudaraan lintas agama pun dapat tergambarkan melalui sebuah pentas seni yang menggembirakan.
Keempat, berkolaborasi dalam bidang pendidikan melalui olimpiade Matematika, Kimia, dan Bahasa Inggris. Pada mata pelajaran umum, tidak ada sekat yang membatasi untuk saling berkolaborasi. Semua memiliki tujuan yang sama: mendidik anak bangsa sebagai aset penting negara.
Foto bersama yang penuh kehangatan antara guru SMA Muhammadiyah Ambon dan SMA Kristen YPKPM Ambon
Dampak dari inisiatif ini pun sangat terasa pada diri siswa. Mereka tentunya memiliki pengetahuan yang lebih luas, rasa percaya diri yang meningkat, serta keberanian untuk saling terbuka dalam semangat kolaborasi. Secara pribadi, saya menemukan hal yang menyentuh hati: melalui inisiatif ini, siswa dapat mempererat tali persaudaraan sehingga mereka mampu bekerja sama satu sama lain.
Bagi saya, LKLB adalah pengalaman yang sangat berharga. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melatih kerjasama, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab. Melalui LKLB, saya belajar untuk lebih percaya diri, saling menghargai, dan peduli terhadap sesama. LKLB menjadi pengalaman yang inspiratif dan bermanfaat bagi pengembangan diri setiap pendidik.
Langkah kedepannya, kami akan tetap optimis untuk terus menjalin hubungan hidup Pela dan Gandong antara kedua sekolah ini. Kepada rekan-rekan alumni LKLB, mari kita senantiasa menjaga nilai kebersamaan dan kepedulian di tengah keberagaman, tanpa pernah memandang agama sebagai sekat yang membatasi kebaikan. Jadikanlah pengalaman yang kita peroleh sebagai bekal untuk terus berkontribusi positif bagi masyarakat.
Bagi saya, LKLB adalah pengalaman yang sangat berharga. Kegiatan ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga melatih kerjasama, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab.
Profil Penulis
Amirudin Rumagia
Alumni LKLB Angkatan 59
Guru, SMA Muhammadiyah Ambon

0 Comments