Sebuah Cerita tentang Keberanian dari Jantung Kota Ambon
Oleh: Rizal Salasa, S.Pd.I
Hari itu, Masjid Al-Fatah kedatangan tamu spesial, saudara-saudara kami dari SD Kristen 1 Waimahu.
Mereka belajar sejarah tentang bagaimana Masjid ini dibangun dengan bantuan tangan-tangan non-muslim, serta mengenal beberapa ornamen-ornamen atau simbol-simbol keislaman.
Yang menarik, mereka melakukan sesuatu yang membuat kami terdiam…
Tanpa ada yang menyuruh, anak-anak dari SD Kristen 1 Waimahu itu mendekat ke kotak amal masjid dan secara spontan mendonasikan uang mereka.
Di sudut lain, saya menemukan pemandangan dimana anak-anak SD Al-Fatah II merapikan rambut teman-teman Kristen mereka yang berantakan, mengikatnya dengan penuh kasih sayang.
Di hari berikutnya, giliran kami yang berkunjung ke SD Kristen 1 Waimahu. Kami disambut seperti saudara jauh yang sudah lama dirindukan.
Di sana kami diajarkan bagaimana membuat musik. Kami bernyanyi bersama, menciptakan lagu yang setiap kata dan kalimatnya adalah doa untuk perdamaian.
Kemudian kami juga masuk ke Gereja, bukan untuk beribadah, tapi untuk saling mengenal—agar tak ada lagi salah paham di masa depan.
Semua ini bermula dari LKLB (Literasi Keagamaan Lintas Budaya). Sebuah strategi untuk membangun Kompetensi Pribadi, Kompetensi Komparatif, dan Kompetensi Kolaboratif.
“Jika sejak dini mereka sudah diajarkan mencintai perbedaan, saya yakin… peradaban manusia akan selamat.”
Ambon telah membuktikan bahwa perbedaan bukan persoalan, melainkan jalan untuk saling menguatkan.
Jika sejak dini mereka sudah diajarkan mencintai perbedaan, saya yakin… peradaban manusia akan selamat
Profil Penulis
Rizal Salasa, S.Pd.I
Alumni LKLB Angkatan 72
Kepala Sekolah, SD Al Fatah 2 Ambon

0 Comments