Delegasi dari Laos, Kamboja, Vietnam hadir di Indonesia untuk mempelajari Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB), bersama Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, dan narasumber tokoh agama; Senior Fellow Institut Leimena, Alwi Shihab, Maha Nayaka Sangha Agung Indonesia, Partono Nyana Suryanadi Mahathera, dan Wakil Asia di  Dewan Gereja-gereja Sedunia, Pdt. Henriette T. Hutabarat.

Jakarta, LKLB News – Enam delegasi dari tiga negara sahabat di Asia Tenggara, yaitu Kamboja, Laos, dan Vietnam, datang ke Indonesia untuk mempelajari secara langsung Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang telah diinisiasi Institut Leimena bersama berbagai mitra lembaga pendidikan dan keagamaan.

Para delegasi tersebut hadir selama hampir sepekan di Jakarta pada 19-23 Agustus 2026 untuk mendengarkan dan mengobservasi pengalaman Indonesia dalam menjalankan Program LKLB yang telah melatih lebih dari 11.000 guru dan pendidik.

Delegasi dari ketiga negara tersebut sebagian besar berasal dari lembaga pemerintah di masing-masing negara, yaitu Kementerian Kultus dan Agama Kerajaan Kamboja dan Universitas Buddha Preah Sihanouk Raja di Phonm Penh, Departemen Etnis dan Urusan Keagamaan di bawah Kantor Perdana Menteri Laos, dan Akademi Nasional Politik Ho Chi Minh yang merupakan lembaga setingkat Kementerian di bawah pimpinan tertinggi negara Vietnam yaitu Politburo Partai Komunis.

“Kita ingin berbagi pengalaman yang kita miliki di Indonesia karena Program LKLB bertujuan membangun kohesi sosial dan berkaitan erat dengan upaya bangsa kita dalam mengelola keberagaman,” kata Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho.

Program LKLB yang telah dijalankan di Indonesia menjadi model bagi negara-negara di Asia Tenggara untuk menumbuhkan rasa saling percaya diantara masyarakat majemuk yang dapat mendukung pembangunan nasional. 

Matius menjelaskan Program Immersion LKLB telah dilaksanakan empat kali sejak tahun 2025. Total sebanyak 24 delegasi dari lima negara ASEAN yaitu Kamboja, Filipina, Laos, dan Vietnam, telah datang untuk belajar Program LKLB di Indonesia.

Ia menilai sangat baik berbagi pengalaman Program LKLB dengan negara-negara lain, apalagi negara-negara di Asia Tenggara memiliki kemiripan dalam hal kemajemukan masyarakatnya.

“Bukan mencoba meniru apa yang kita lakukan di Indonesia karena setiap negara pasti mempunyai konteks berbeda. Kami ingin mereka melihat bahwa berdasarkan apa yang dipelajari dari sini, ada hal-hal baik yang bermanfaat untuk negara mereka dan dari sana kita bisa membangun kerja sama,” kata Matius.

Selain mengikuti sesi, para delegasi juga diajak mengunjungi Masjid Istiqlal dan bertemu dengan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI, Farid Saenong (paling kiri).

Audiensi dengan Kemenag dan Kemlu

Para delegasi Program Immersion LKLB juga melakukan audiensi ke Kementerian Agama dan Kementerian Luar Negeri. Mereka berdialog dengan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama, Farid Saenong, di Masjid Istiqlal.

Di Kemlu, mereka bertemu dengan tiga pejabat yaitu Direktur Diplomasi Publik Direktorat Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Ani Nigeriawati, Direktur Asia Tenggara Direktorat Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Elizani T.X. Nadia Sumampouw, dan Wakil Direktur Direktorat Kerja Sama Sosial Budaya ASEAN, Monica Ari Wijayanti.

Selain itu, para delegasi juga mendengarkan paparan dari Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Rusprita Putri Utami, dan Asesor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Hukum Kementerian Hukum yang merupakan mantan Kepala BPSDM Hukum Kemenkum, Gusti Ayu Putu Suwardani.

Mantan Menteri Luar Negeri RI sekaligus Senior Fellow Institut Leimena, Alwi Shihab, mengatakan Program LKLB di Indonesia diawali kegelisahan karena tingginya angka intoleransi di kalangan guru agama berdasarkan survei dari UIN Syarif Hidayatullah tahun 2019.

“Itu sebabnya, Program LKLB yang dimulai tahun 2021 menyasar kepada pelatihan guru madrasah lalu semakin berkembang kepada pelatihan sosial kultural untuk ASN (aparatur sipil negara), bahkan telah diadopsi sebagai pelatihan calon pemimpin politik Vietnam oleh Akademi Nasional Ho Chi Minh,” ujar Alwi.

Kunjungan ke GPIB Immanuel Jakarta dalam rangka Hybrid Upgrading Workshop LKLB yang diikuti sekitar 30 guru bersama dengan delegasi Program Immersion LKLB.

LKLB Bangun Kesetaraan Lintas Agama

Maha Nayaka Sangha Agung Indonesia, Bhante Partono Nyana Suryanadi Mahathera, mengatakan dalam konteks ASEAN, keberagaman bukan sekadar kenyataan sosial, tetapi kekuatan yang harus dikelola dengan baik agar tidak menjadi sumber konflik. Ia mengatakan pendekatan LKLB berhasil mempertemukan berbagai perspektif keagamaan dalam suasana yang setara.

“Saya melihat bahwa LKLB ini sebagai ruang yang sangat penting untuk membangun kepercayaan dan memperluas dialog,” kata Partono.

Wakil Asia di  Dewan Gereja-gereja Sedunia dan Senior Fellow Institut Leimena, Pdt. Henriette T. Hutabarat, menegaskan bahwa agama dan budaya adalah dua elemen tidak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Itu sebabnya, transformasi masyarakat baru bisa terjadi jika melalui kedua hal tersebut.

“LKLB adalah ruang aman untuk menanyakan hal-hal yang dianggap sensitif karena kita harus meresponinya secara jujur dengan tetap menghargai perbedaan yang ada,” kata Henriette.

Peneliti International Institute of Social Studies (ISS) Erasmus University Rotterdam, Yuyun Wahyuningrum, mengatakan ada keingintahuan di ASEAN untuk mengenal LKLB dan bagaimana pendekatan itu beroperasi dalam konteks Indonesia.

“LKLB tidak hanya praktis tetapi juga doable, artinya bisa diterapkan dalam berbagai konteks masyarakat. LKLB adalah salah satu metodologi yang dianggap bisa direplikasikan di konteks negara-negara Asia Tenggara,” kata Yuyun.

Yuyun mengatakan ASEAN sendiri telah mengadopsi pendekatan LKLB ke dalam cetak biru Visi Komunitas ASEAN 2045 pada pilar Komunitas Sosial Politik dan pilar Sosial Budaya, dalam rangka mencapai kohesi sosial, perdamaian, dan Pembangunan berkelanjutan.

“LKLB adalah kerja keras, kerja bersama, kerja terus-menerus, dan kerja meluas. Jadi karena setiap orang berbeda, konteks juga berbeda, maka harus dilakukan terus menerus. Inilah yang dilakukan Institut Leimena, tidak hanya dengan guru agama di Indonesia tapi juga aktor-aktor penting di luar Indonesia,” kata Yuyun. [IL/Chr]

Loading...