Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Lukman Thahir, Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Inayah Rohmaniyah, dan Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, dalam sesi pembukaan HUW LKLB di Palu, Sulawesi Tengah.
Palu, LKLB News – Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama, Palu, dan Institut Leimena menggelar lokakarya atau Hybrid Upgrading Workshop (HUW) Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diikuti oleh 37 guru lintas agama di Provinsi Sulawesi Tengah. Lokakarya bertujuan melatih guru dalam mengintegrasikan nilai-nilai LKLB melalui pembelajaran di kelas sehingga guru bisa menjadi teladan bagi siswa dalam merawat toleransi dan kemajemukan.
“Pengalaman Sulawesi Tengah, salah satunya di Poso dan wilayah lain, dalam menghadapi ketegangan sosial yang berdimensi keagamaan menjadi pengingat bahwa toleransi dan kohesi sosial bukan sesuatu yang otomatis terwariskan, melainkan perlu terus dirawat, khususnya melalui pendidikan,” kata Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, dalam sesi pembukaan HUW LKLB di Palu, 18 September 2026.
HUW LKLB adalah pelatihan lanjutan khusus bagi alumni Program LKLB yaitu guru atau pendidik yang telah lulus pelatihan dasar LKLB yang dilaksanakan secara daring. Tidak berhenti pada tataran konsep, para guru didampingi untuk menerjemahkan nilai-nilai LKLB ke dalam praktik pembelajaran dan program sekolah.
Peserta untuk HUW LKLB di Palu berasal dari lima wilayah Provinsi Sulteng yaitu Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Mamuju Utara.
Daniel mengatakan HUW LKLB selama tiga hari terdiri dari rangkaian kegiatan partisipatif mencakup sesi pleno bersama narasumber, diskusi kelompok, penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) atau program kerja berbasis LKLB, serta micro teaching untuk mempraktikkan RPP yang telah disusun.
“Hasilnya diterapkan langsung di sekolah dan madrasah masing-masing,” katanya.
Daniel menegaskan toleransi tidak bisa hanya diajarkan sebatas pengetahuan tapi harus dialami langsung lewat interaksi dengan orang yang berbeda agama. Itu sebabnya, lokakarya ini dirancang untuk diikuti guru alumni LKLB lintas agama. Para guru juga melakukan kunjungan ke rumah ibadah sebagai ruang perjumpaan dan dialog lintas iman.
Para peserta HUW LKLB di Palu berasal dari berbagai kota dan kabupaten di Sulawesi Tengah.
Rektor UIN Datokarama, Lukman Thahir, menekankan pentingnya LKLB bukan hanya sebagai teori atau konsep akademis, melainkan praktik nyata dalam hidup bermasyarakat (living laboratory). Menurut Lukman, UIN Datokarama saat ini juga berupaya mendorong kampus sebagai living laboratory dalam keberagaman, antara lain dengan menerima mahasiswa non-Muslim.
“Ke depan, orang datang ke UIN Datokarama Palu bukan hanya untuk belajar ilmu agama, tetapi juga untuk melihat bagaimana keberagaman dapat dikelola dan bagaimana ruang akademik yang damai dapat diwujudkan bagi semua,” katanya.
Menurut Lukman, sekolah juga seharusnya menjadi living laboratory dalam hal toleransi dan keberagaman dimana semua anak dihargai dan dihormati. Hal itu penting di tengah fenomena radikalisme agama termasuk di dunia pendidikan.
“LKLB pada hakikatnya bukan menegasikan keyakinan, melainkan mendewasakan manusia agar mampu hidup bersama di tengah perbedaan,” tandas Lukman.
Mantan Dekan Ushuluddin dan Pemikiran Islam dan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Inayah Rohmaniyah, menyatakan Program LKLB disusun secara komprehensif dan bisa diterapkan secara praktis sehingga relevan untuk generasi muda.
Komprehensif dan Relevan
Guru Besar Ilmu Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, Inayah Rohmaniyah, mengatakan Program LKLB dirancang secara komprehensif agar tidak hanya menyasar level pengetahuan tetapi juga bisa diterapkan secara praktis agar dapat diteruskan kepada siswa di kelas. Itu sebabnya, LKLB sangat relevan untuk generasi muda terutama kelompok Gen Z dan Gen Alpha, yang lebih menyukai pengalaman dan hal-hal pragmatis.
“Jika cara mengedukasi dan menanamkan konsep keberagaman dengan cara konservatif dan normatif seperti generasi sebelumnya, maka generasi anak-anak kita saat ini tidak bisa relate. LKLB menanamkan keberagaman dengan cara perjumpaan langsung. Anak-anak muda menyukai sesuatu yang pragmatis, langsung bisa dirasakan, tidak terlalu rumit,” kata Inayah.
Inayah mengatakan Program LKLB dirancang agar guru bisa menerapkan pembelajaran berbasis tiga kompetensi untuk hidup dalam masyarakat majemuk. Misalnya, kompetensi komparatif LKLB yang diaplikasikan melalui praktik kunjungan dan dialog di rumah ibadah.
Inayah juga menyoroti urgensi LKLB untuk mengembalikan peran lembaga pendidikan yang kian tergeser oleh terpaan media sosial. LKLB berorientasi kepada pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) karena secara aktif mendorong generasi muda untuk melakukan perjumpaan, berkomunikasi, berkolaborasi, dan mengasah nalar kritis.
“LKLB menjadi kebutuhan mendesak untuk menjaga kesehatan mental anak bangsa terutama dari ancaman bullying karena akan menumbuhkan lingkungan pendidikan yang aman bagi semua anak, yang mendukung penerapan Budaya Sekolah dan Aman dan Nyaman,” katanya.
Senada dengan itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulteng, Firmanza, yang juga menjadi narasumber, mengatakan penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) yang sudah dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, menjadi penting dalam konteks Sulteng. Ia mengatakan Sulteng adalah provinsi yang majemuk dengan pengalaman hidup lintas agama.
“Sejarah konflik sosial menjadi pelajaran penting tentang pentingnya merawat kerukunan sejak dari ruang kelas,” kata Firmanza. [IL/Chr]