Fasilitator LKLB Memberdayakan dan Membangun Kesadaran
Penulis (Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi) ketika menjadi fasilitator di Hybrid Upgrading Workshop di Solo pada 8 – 10 Mei 2026.
Oleh: Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Siapapun yang terundang sebagai fasilitator Hybrid Upgrading Workshop (HUW) LKLB, artinya dianggap cukup cakap dan cakep untuk mendampingi, menguatkan dan memberdayakan peserta. Bukan melatih atau bahkan menggurui. Tentu itu sebuah tantangan tersendiri. Utamanya, karena peserta yang didampingi banyak yang lebih lama jam terbangnya dalam mengajar maupun di bidang manajerial.
Di kesempatan pertama saat HUW Surabaya 3-5 Mei 2024 lalu, saya berusaha menutupi minder ketika memfasilitasi diskusi talenta pendidik luar biasa seperti Pak Anang, Pak Izzuddin, Bu Pepsi, Bu Kris, Pak Yasir, dan Pak Effendi. Di akhir bulan yang sama, tesis saya berjudul “Representasi Literasi Keagamaan dalam Tafsir The Study Qur’an” diuji dan dinyatakan lulus dengan sambutan hangat dari tim penguji. Sejak awal, tesis tersebut memang terinspirasi dari keikutsertaan saya dalam berbagai event LKLB dan saya yakin kelulusan itu berkat mendampingi sebagai fasilitator. Di agama saya selalu ditekankan pesan mulia bahwa Allah akan menolong hamba-Nya selama ia mau menolong sesama.
Ketika diberi kepercayaan menjadi fasilitator pada HUW Solo 8-10 Mei 2026 lalu, saya malah jauh lebih minder, di samping tentunya banyak bersyukur karena peserta kelompok sudah mandiri berkolaborasi bersama-sama menyelesaikan tugas tanpa harus diberi banyak arahan. Pak Budi yang cukup introvert, Bu Wahyu yang humoris dan sat-set, Pak Syukron yang gak suka bikin ribet, dan the special one, Pak Arif guru musik tunanetra yang ramahnya gak ketulungan. Kami pun jadi belajar banyak tentang pembelajaran dan kegiatan yang inklusif alis ramah disabilitas. Kehadiran Pak Arif setidaknya menjadi tonggak bagi kami untuk lebih memanusiakan manusia.
Baru di LKLB saya sadar bahwa komunikasi antar sesama calon fasilitator dibangun jauh sebelum hari-H, meski sebatas via zoom meeting berkali-kali. Lewat HUW pula saya tersadar bahwa kegiatan yang baik tidak mesti meriah, mengundang banyak pejabat teras, dipenuhi wartawan, atau dihadiri ratusan peserta. Akan tetapi, harus punya dampak nyata bagi peserta, luaran yang jelas dan terukur, serta keberlanjutan yang bisa bermanfaat bagi kehidupan bangsa. Institut Leimena mendidik kami bahwa sekecil apapun kesalahan perlu evaluasi dan seremeh apapun prestasi wajib diapresiasi.
Selain memberdayakan heterogenitas peserta, kami sebagai fasilitator juga diminta untuk membangun kesadaran. Meski baru kenal beberapa saat, peserta sudah mencapai komitmen bersama untuk disiplin tanpa harus membahas sanksi keterlambatan. Faktanya, beneran on time jalannya sesi demi sesi bergantian dengan durasi yang terkontrol dan peserta yang kondusif selama 3 hari 2 malam.
Kalau mengingat semua itu, saya selalu merasa bahwa kontribusi yang saya berikan selama menjadi fasilitator HUW LKLB sangatlah sedikit dibanding oleh-oleh berupa pengalaman, wawasan, kehangatan, kebersamaan, serta jejaring persahabatan yang tak lekang zaman.
Tesis saya berjudul “Representasi Literasi Keagamaan dalam Tafsir The Study Qur’an” diuji dan dinyatakan lulus dengan sambutan hangat dari tim penguji. Sejak awal, tesis tersebut memang terinspirasi dari keikutsertaan saya dalam berbagai event LKLB dan saya yakin kelulusan itu berkat mendampingi sebagai fasilitator.
Profil Penulis
Mohammad Salahuddin Al-Ayyuubi
Guru MAN 2 Lamongan Jawa Timur
Alumni LKLB angkatan ke-36

0 Comments