Perjumpaan Langsung Membuka Jalan Saling Memahami

Penulis (Maya Marcella Naibaho) ketika menjadi fasilitator di Hybrid Upgrading Workshop di Solo pada 21 – 23 Agustus 2026.

Oleh: Maya Marcella Naibaho

Pertama kali mengikuti LKLB sekitar dua tahun lalu, saya merasa tertarik dan antusias karena nilai-nilai yang dibahas memiliki keterkaitan dengan bidang yang saya tekuni, yaitu Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. 

Ketertarikan tersebut kemudian membawa saya pada kesempatan untuk menjadi fasilitator dalam kegiatan HUW tahun ini. Ketika pertama kali mendapat kesempatan menjadi fasilitator, saya sempat merasa ragu dan tidak cukup yakin dengan kemampuan diri. Saya masih sangat muda, dan pengalaman mengajar pun belum banyak. 

Namun, saya berpikir bahwa saya tidak harus menjadi orang yang paling tahu untuk dapat menjadi fasilitator. Kesempatan ini justru menjadi ruang bagi saya untuk belajar, bertumbuh, dan memperluas kapasitas sebagai seorang guru. 

Saya juga belajar banyak dari rekan-rekan fasilitator lainnya dan setiap interaksi yang terjadi itu ternyata menumbuhkan rasa percaya diri saya. Kemudian hal lain yang memotivasi saya untuk terlibat dalam kegiatan LKLB ini juga adanya semangat membumikan nilai LKLB dalam dunia pendidikan, karena kewajiban menginsersi nilai LKLB bukan hanya tugas guru Pendidikan Pancasila atau guru Pendidikan Agama saja, tetapi menjadi tanggung jawab kita semua sebagai guru. 

Dari pengalaman ini juga saya menyadari bahwa menjadi fasilitator bukan hanya sekedar memimpin tetapi juga menciptakan ruang agar setiap anggota berani berbagi, berdiskusi dan belajar bersama.

Selama kegiatan juga saya mendapat banyak pengetahuan dan persepktif baru, salah satunya mengenai bagaimana memandang isu SARA. Saya sebelumnya cenderung menganggap SARA sebagai sesuatu yang sensitif dan sebaiknya dihindari untuk dibicarakan. Namun melalui dialog dan interaksi selama kegiatan LKLB, saya memahami bahwa isu tersebut justru perlu dibicarakan secara terbuka dan bijaksana agar kita bisa saling memahami, menerima perbedaan dan membangun interaksi keberagaman yang harmonis. 

Melalui pengalaman dan pembelajaran ini mengubah cara pandang saya, sekaligus mengingatkan saya bahwa sebagai guru saya memiliki peran untuk menciptakan ruang belajar yang aman bagi peserta didik untuk berdialog dan menghargai keberagaman.

Salah satu momen yang menghangatkan bagi saya ketika bersama guru dari berbagai daerah adalah saat berbagi pengalaman pertama kali memasuki rumah ibadah lain. Beberapa rekan bercerita tentang rasa takut dan trauma yang muncul karena stigma yang mereka dengar sejak kecil. Namun, setelah mengalami secara langsung serta adanya kesempatan untuk berdialog, ternyata apa yang mereka bayangkan sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan. Bagi saya, pengalaman tersebut menunjukkan betapa pentingnya perjumpaan.

Terkadang sesuatu yang selama ini terasa asing atau menakutkan dapat menjadi lebih dekat ketika kita berani mengenal dan memahami secara langsung. Momen lain juga saya rasakan ketika mengerjakan tugas dalam kelompok. Beberapa kali muncul perbedaan pendapat, tetapi suasana tidak menjadi tegang karena kami dapat menanggapinya dengan ringan dan sesekali diselingi humor. 

Dari situ, saya belajar bahwa perbedaan pendapat tidak selalu harus membuat suasana menjadi serius, terkadang sedikit humor dan kemauan untuk mendengarkan justru membantu kita saling memahami.

Apa yang saya dapatkan dari kegiatan LKLB kemudian akan saya bawa kembali ke ruang kelas. Saya berusaha menginternalisasi tiga kompetensi LKLB (kompentasi pribadi, komparatif dan kolaborasi) dalam berbagai praktik pembelajaran. 

Ketika menemukan materi yang beririsan dengan pengalaman yang saya dapatkan selama kegiatan LKLB, saya mencoba membagikan pengalaman tersebut kepada peserta didik sebagai bagian dari pembelajaran. Dengan begitu, peserta didik tidak hanya memahami “toleransi” sebagai sebuah konsep, tetapi juga dapat melihat dan memaknainya melalui pengalaman dan situasi yang lebih kontekstual. 

Pada akhirnya saya menyadari bahwa dampak dari menjadi fasilitator bukan hanya tentang apa yang saya lakukan dalam komunitas, tetapi juga tentang bagaimana pengalaman tersebut mengubah cara saya hadir sebagai guru di sekolah. Saya ingin membawa semangat berdialog, mendengarkan dan menghargai perbedaan itu ke dalam kelas, sehingga nilai-nilai LKLB dapat benar-benar membumi dalam keseharian peserta didik.

Sebagai penutup dari pengalaman saya, saya ingin sampaikan bahwa
“Jangan takut untuk terus belajar dan melangkah, karena bisa jadi pengalaman yang kita anggap kecil hari ini justru menjadi sesuatu yang bermakna bagi orang lain dan membawa nilai LKLB semakin membumi.”

Salah satu momen yang menghangatkan bagi saya ketika bersama guru dari berbagai daerah adalah saat berbagi pengalaman pertama kali memasuki rumah ibadah lain. Beberapa rekan bercerita tentang rasa takut dan trauma yang muncul karena stigma yang mereka dengar sejak kecil. Namun, setelah mengalami secara langsung serta adanya kesempatan untuk berdialog, ternyata apa yang mereka bayangkan sebelumnya tidak sesuai dengan kenyataan. Bagi saya, pengalaman tersebut menunjukkan betapa pentingnya perjumpaan.

Profil Penulis

Maya Marcella Naibaho
Guru Pendidikan Pancasila – SMP BPK Penabur Holis
Alumni LKLB angkatan ke-55

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading...