Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Ina H. Krisnamurthi, dalam Webinar Internasional dalam rangka Hari ASEAN ke-59 yang diadakan oleh Institut Leimena dan Sasakawa Peace Foundation, 6 Agustus 2026.

Jakarta, LKLB News – Asia Tenggara adalah salah satu kawasan paling beragam yang tercermin dari berbagai keyakinan, budaya, dan tradisi. Dalam konteks itulah, Kementerian Luar Negeri RI mendorong penerapan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) atau Cross-Cultural Religious Literacy sebagai pendekatan untuk memperkuat kohesi sosial, perdamaian, dan ketahanan untuk masyarakat ASEAN.

Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Ina H. Krisnamurthi, dalam Webinar Internasional dalam rangka Hari ASEAN ke-59 yang diadakan oleh Institut Leimena dan Sasakawa Peace Foundation, bertemakan “Literasi Keagamaan Lintas Budaya untuk Kohesi Sosial dan Perdamaian di Asia Tenggara”, yang diikuti sedikitnya 1.800 peserta, pada 6 Agustus 2026.

“Saat memperingati Hari ASEAN, mari kita mengingat bahwa masa depan ASEAN tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi. Masa depan kita akan ditentukan oleh kemampuan kita menjaga kepercayaan, memperdalam rasa saling menghormati, menjunjung tinggi toleransi, dan memupuk kesepahaman di tengah keberagaman,” kata Ina.

Ina menjelaskan ASEAN telah mengakui pentingnya upaya LKLB Indonesia melalui Visi Komunitas ASEAN 2045, khususnya dalam pilar Komunitas Politik-Keamanan dan Komunitas Sosial-Budaya ASEAN. Namun, tantangan masih terus terjadi berupa intoleransi, kesalahpahaman, dan eksklusi baik di Asia Tenggara maupun tingkat global.

Menurutnya, pendekatan hidup berdampingan sekalipun didasarkan niat baik, seperti mempertemukan komunitas-komunitas berbeda agama dalam ruang bersama, belum tentu menjamin terciptanya saling pengertian.

“Kedekatan secara fisik saja tidaklah cukup. Yang benar-benar penting adalah bagaimana kita membangun interaksi satu sama lain. Dalam konteks inilah, literasi keagamaan lintas budaya menjadi sangat penting,” kata Ina.

Ia menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman menjadi alasan mendasar mengapa ASEAN tetap kuat baik dahulu, saat ini, dan masa mendatang.

“LKLB bukan hanya tentang mempelajari agama-agama lain, melainkan tentang belajar satu sama lain. Pendekatan ini membekali kita dengan kemampuan untuk berinteraksi melintasi berbagai perbedaan dengan empati, rasa hormat, dan kepekaan, sehingga keberagaman dapat menjadi sumber kohesi, bukan sumber ketegangan,” lanjut Ina.

Direktur Program Pembangunan Perdamaian Sasakawa Peace Foundation (SPF), Maho Nakayama, mengapresiasi pendekatan LKLB yang telah ikut mempengaruhi pembahasan kebijakan regional di ASEAN dalam upaya memperkuat kohesi sosial.

Direktur Program Pembangunan Perdamaian Sasakawa Peace Foundation (SPF), Maho Nakayama, mengatakan SPF yang berdiri tahun 1986 sebagai yayasan nirlaba di Jepang, memiliki komitmen khusus terhadap pembangunan perdamaian yang inklusif.

Ia mengaku terkesan dengan pendekatan LKLB untuk membangun kohesi sosial dari tingkat akar rumput. Menurutnya, upaya di tingkat lokal tersebut telah menghasilkan dampak yang bermakna dan turut memengaruhi pembahasan kebijakan regional di ASEAN.

“Kami memiliki komitmen yang kuat terhadap pembangunan perdamaian yang inklusif. Kami menempatkan manusia dan inklusi sebagai inti dari seluruh inisiatif kami. Oleh karena itu, kami sangat terkesan dengan pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya,” ujar Nakayama.

Nakayama mengatakan Program LKLB berupaya membangun kohesi sosial dari awal, dimulai dengan praktik pendidikan di ruang kelas dan masyarakat. Kemitraan Sasakawa Peace Foundation dan Institut Leimena selama dua tahun terakhir dalam Program LKLB untuk Perdamaian di Provinsi Maluku, memungkinkan kedua lembaga untuk mengeksplorasi penerapan LKLB dalam proses pascakonflik. Pendekatan LKLB mendorong agar pembangunan perdamaian tidak hanya berfokus pada penyelesaian konflik, tapi juga pemulihan kepercayaan sosial, memperkuat rekonsiliasi, dan mendorong kehidupan bersama secara damai.

“Melalui kolaborasi ini, kami telah menyaksikan dampak nyata dan positif penerapan LKLB di tengah masyarakat,” kata Nakayama.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho.

Diminati Negara Lain

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan pendekatan LKLB dipakai untuk memperkuat kohesi sosial dan perdamaian. Program ini dimulai sebagai pelatihan guru madrasah dan sekolah tahun 2021 di Indonesia, kemudian menjadi jembatan untuk berdialog, bertukar pikiran dan pengalaman dengan negara-negara lain yang memiliki konteks berbeda.

“Motto ASEAN, One Vision, One Identity, One Community, juga dengan sendirinya menekankan pentingnya kohesi sosial dan perdamaian. LKLB juga telah dimasukkan dalam dokumen Visi Komunitas ASEAN 2045,” kata Matius.

Ia mengatakan Institut Leimena bersama Sasakawa Peace Foundation telah menerapkan pendekatan LKLB untuk Perdamaian di Provinsi Maluku sejak 2024. Program tersebut menarik minat sejumlah delegasi dari Asia Tenggara yang datang ke Indonesia untuk mempelajari secara langsung pendekatan LKLB.

Diantaranya, delegasi Institute of Ethnicity and Religions, Ho Chi Minh National Academy of Politics, Vietnam, pada 2025, dan delegasi Mindanao State University System, Filipina di awal tahun 2026. Kedua kunjungan itu telah dilanjutkan dengan pelatihan dosen dan calon pemimpin dari kedua negara. Selanjutnya, pada pertengahan Agustus 2026, delegasi lainnya dari Vietnam, Laos, dan Kamboja, juga datang ke Indonesia untuk mempelajari Program LKLB.

“Setiap negara tentunya memiliki konteks dan tantangan yang berbeda, sehingga tidak ada solusi yang seragam. Namun, dalam dunia yang semakin terpolarisasi, kami percaya bahwa justru dialog dan berbagi pengalaman, best practices, harus semakin ditingkatkan,” kata Matius. [IL/Chr]

Loading...