Kasih di Bulan Syawal:
Catatan Seorang Guru Kristen dalam Hangatnya Silaturahmi Halal Bi Halal di SMKN 2 Putussibau Kalimantan Barat
Oleh: Edi Paimon, S.Th., M.Pd.
Pagi itu, aula SMKN 2 Putussibau terasa berbeda. Riuh suara siswa dari berbagai latar belakang (Muslim, Katolik, dan Kristen) berbaur dalam satu ruang yang sama. Sebagai guru Pendikan Agama Kristen sekaligus Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, saya berdiri di tengah-tengah mereka, bukan sekadar sebagai penyelenggra kegiatan, tetapi sebagai bagian dari sebuah pengalaman lintas iman yang hidup.
Saat lantunan tilawah Al-Qur’an mulai terdengar, saya terdiam sejenak. Ada rasa hening yang tidak biasa, bukan karena saya asing, tetapi justru karena saya menyadari bahwa di momen itu, kami semua sedang belajar menghormati iman satu sama lain dengan cara yang paling sederhana: hadir dan mendengar. Dalam hati, saya teringat bahwa nilai kasih dan penghormatan tidak pernah dibatasi oleh sekat agama.
Sejujurnya, ada sedikit kekhawatiran di awal. Saya sempat bertanya dalam hati: apakah kehadiran saya sebagai guru Agama Kristen dalam tradisi Halal Bi Halal ini akan terasa canggung? Namun kekhawatiran itu perlahan runtuh ketika satu per satu siswa datang menghampiri saat sesi salam-salaman. Ada yang menunduk hormat, ada yang tersenyum tulus, bahkan ada yang berkata pelan, “Maaf ya, Pak!” Momen itu sederhana, tetapi sangat dalam, sebuah perjumpaan manusia yang melampaui perbedaan.
Tema “Satukan Hati, Pererat Silaturahmi di Bulan Syawal” benar-benar terasa nyata, bukan sekadar tulisan di spanduk. Saya melihat sendiri bagaimana sekat-sekat kecil di antara siswa mulai mencair. Tidak ada lagi kelompok-kelompok yang kaku, yang ada hanyalah kebersamaan yang mengalir begitu alami.
Pengalaman saya sebagai alumni Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) Angkatan ke-75 sangat menolong saya memaknai momen ini. Salah satu prinsip yang saya pelajari adalah bahwa literasi keagamaan bukan sekadar mengetahui ajaran agama lain, tetapi mampu hadir secara empatik dalam praktik keagamaan orang lain tanpa kehilangan identitas diri. Dan pagi itu, saya melihat prinsip itu hidup, bukan dalam teori, tetapi dalam tindakan nyata di lingkungan sekolah di mana saya hadir.
Sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, saya semakin yakin bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus diajarkan di dalam kelas. Ada momen-momen seperti ini yang justru menjadi “ruang belajar” paling kuat, ketika siswa mengalami langsung arti pengampunan, kerendahan hati, dan penerimaan.
Di akhir kegiatan, ketika kami berfoto bersama, saya tidak hanya melihat kumpulan siswa dan guru. Saya melihat sebuah komunitas yang sedang belajar menjadi manusia yang lebih utuh, yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga dewasa secara sosil dan spiritual.
Dan bagi saya pribadi, hari itu adalah pengingat bahwa kasih, dalam bentuknya yang paling sederhana, selalu mampu menmukan jalannya, bahkan di tengah perbedaan. Kasih tidak selalu hadir dalam kata-kata besar atau tindakan yang spktakuler, tetapi justru dalam kesediaan untuk hadir, mendengar, dan menerima satu sama lain dengan tulus. Di sanalah pendidikan yang sesungguhnya terjadi, ketika hati disentuh, relasi dipulihkan, dan kemanusiaan dirayakan.
Saya percaya, jika nilai-nilai seperti ini terus dirawat di lingkungan sekolah, maka kita tidak hanya sedang membentuk siswa yang cerdas, tetapi juga generasi yang mampu hidup dalam damai di tengah keberagaman. Dan mungkin, dari ruang-ruang sedehana seperti inilah, masa depan Indonesia yang rukun dan penuh kasih sedang dibangun.
saya semakin yakin bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus diajarkan di dalam kelas. Ada momen-momen seperti ini yang justru menjadi “ruang belajar” paling kuat, ketika siswa mengalami langsung arti pengampunan, kerendahan hati, dan penerimaan.
Profil Penulis
Edi Paimon, S.Th., M.Pd.
Alumni LKLB Angkatan 75
Guru, SMKN 2 Putussibau

0 Comments