Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, dalam Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bertemakan “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” yang diikuti lebih dari 5.700 peserta pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Jakarta, LKLB News – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti, menegaskan pentingnya membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) untuk menumbuhkan kepribadian siswa yang toleran dan terbuka. Mendikdasmen mengatakan penyebutan istilah budaya menunjukkan bahwa sekolah tidak cukup hanya membangun fasilitas, melainkan perlu membentuk nilai-nilai yang menjamin lingkungan sekolah aman dan nyaman.
Hal itu disampaikan Mendikdasmen dalam Webinar Internasional Seri Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) bertema “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” pada Jumat (2/10/2026). Webinar ini diadakan dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional pada 25 November mendatang dan Hari Guru Internasional pada 5 Oktober.
“Penyebutan istilah ‘budaya’ dipakai secara sengaja, menunjukkan di dalam sekolah terdapat nilai dan perilaku yang mencerminkan sikap toleran, terbuka, dan penerimaan terhadap mereka yang berbeda. Ini sejalan dengan apa yang sudah dilakukan oleh LKLB dan Kementerian,” kata Abdul Mu’ti dalam ceramah kuncinya.
Mendikdasmen mengatakan guru adalah figur sentral yang menjadi teladan bagi murid-muridnya. Ia mengatakan guru dapat menciptakan lingkungan sekolah sebagai meeting point dan melting point, yaitu tempat murid dari latar belakang berbeda bertemu dan dibentuk secara edukatif dan alamiah untuk bersikap toleran, terbuka, dan siap bekerja sama.
“Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah, tapi menjadi kekayaan untuk kita bekerja sama satu sama lain,” kata Abdul Mu’ti, mengingatkan pentingnya toleransi otentik.
Menurut Mendikdasmen, guru punya peran yang lebih tinggi dari sekedar agen pembelajaran (agent of learning) tapi menjadi agen peradaban (agent of civilization). Hal itu juga sejalan dengan gagasan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) “learning to live together”. Artinya, pendidikan perlu melengkapi peserta didik dengan keterampilan sosial agar mampu berinteraksi dengan mereka yang berbeda.
“Substansi pendidikan itu adalah membangun peradaban, membangun karakter, sehingga yang utama manusia memiliki sikap dan kepribadian, serta memiliki komitmen saling memuliakan antara satu dengan lainnya,” kata Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan lingkungan yang aman dan nyaman mencakup dimensi fisik, sosial, spiritual, dan digital. Itu sebabnya, penerapannya membutuhkan dukungan keluarga, masyarakat, serta media.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, dan Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI, Rusprita Putri Utami saat berbicara dalam webinar.
LKLB Percepat BSAN
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, mengatakan Institut Leimena mendukung BSAN karena konsep itu meletakkan guru dan sekolah dalam ekosistem lebih luas. Tidak hanya menjadi tugas guru, keberhasilan BSAN harus dilakukan secara bersama-sama dengan masyarakat dan pemerintah baik pusat maupun daerah.
Matius mengatakan Institut Leimena telah ikut mendorong implementasi BSAN. Salah satunya telah terealisasi dalam peluncuran BSAN bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Maluku pada Februari 2026. Potensi penerapan BSAN semakin besar karena Program LKLB sudah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik dari 38 provinsi di Indonesia.
“Itulah sebabnya bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI dan dengan Pemerintah Daerah, Institut Leimena mengupayakan agar pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya juga dapat ikut mempercepat tercapainya Budaya Sekolah Aman dan Nyaman,” kata Matius.
Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikdasmen RI, Rusprita Putri Utami, mengatakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) adalah keseluruhan nilai, sikap, kebiasaan, dan perilaku untuk menciptakan dan menjaga lingkungan belajar yang kondusif, yang diatur lewat Permendikdasmen Nomor 6/2026 tentang BSAN dan Kepmendikdasmen Nomor 17/2026 tentang Pedoman Penyelenggaraan BSAN.
“BSAN fondasi dari pembelajaran itu sendiri karena ketika murid merasa dihargai, memiliki relasi yang baik dengan teman-temannya dan guru, kemudian berani bertanya, berpendapat, bahkan berani untuk melakukan kesalahan. Ini menjadi ruang belajar lebih kuat untuk mendukung prestasi akademiknya,” kata Rusprita.
Rusprita menekankan bahwa murid bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga perlu dilibatkan sebagai bagian aktif dalam membangun budaya sekolah aman dan nyaman. Melalui gerakan “Rukun Sama Teman”, murid didorong menjadi “Sahabat Hebat” yang saling mendukung dengan prinsip look, listen, dan link. Artinya, peka melihat teman yang membutuhkan dukungan, mendengarkan, dan menghubungkannya dengan bantuan yang tepat.
“Budaya sekolah aman dan nyaman tidak lahir hanya dari regulasi. Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari. Dengarkan murid, cegah risiko sedini mungkin, dan respons dengan tepat,” ujar Rusprita.
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus pada Ditjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen RI, Arif Jamali Muis, dalam Webinar Internasional LKLB yang disertai oleh juru bicara bahasa isyarat dan penerjemah simultan.
Sentuhan Bimbingan Konseling
Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus pada Ditjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru Kemendikdasmen RI, Arif Jamali Muis, mengatakan BSAN tidak dibentuk oleh aturan atau program, namun melalui pengalaman murid setiap hari dimana sekolah menjadi ruang untuk bertumbuh, berinteraksi, dan membentuk karakter.
“Setiap guru perlu memiliki sentuhan ‘BK’ (bimbingan konseling), ketika berinteraksi dengan murid, mulai dari mengenali potensi, membantu mengelola emosi, menumbuhkan daya lenting, menjaga kebiasaan positif, komunikasi empatik, berkolaborasi, dan menata situasi belajar aman dan nyaman,” kata Arif.
Alumni Program LKLB yang merupakan Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal Semarang, Yonathan Djalimun, mengatakan pelatihan LKLB lebih dari sekadar teori dan kompetensi, namun menjadi ruang perjumpaan nyata dengan sesama yang berbeda keyakinan. Ia menyadari sebagai institusi pendidikan berbasis agama, maka tantangannya adalah peserta didik cenderung homogen sehingga minimnya ruang interaksi alamiah dengan perbedaan.
“Untuk mengatasi itu kami fokus penerapan pada kegiatan kokurikuler berbasis pengalaman, yaitu dengan berkolaborasi dengan madrasah melakukan kunjungan antarsiswa, dimana guru-guru dari sekolah kami dan madrasah itu adalah alumni LKLB,” kata Yonathan. [IL/Chr]