Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, menjadi pembicara kunci dalam sesi Dinner Reception International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy pada 11 November 2025.
Jakarta, LKLB News – Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) menjadi salah satu keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup di era digital. Di satu sisi, perkembangan teknologi memberikan kemudahan orang dalam berinteraksi, namun disadari relasi yang terbangun kerap kali minim makna dan rentan terhadap konflik.
Hal itu ditekankan oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, Arrmanatha C Nasir, yang menjadi pembicara kunci dalam sesi Dinner Reception dalam International Conference on Cross-Cultural Religious Literacy (ICCCRL) atau Konferensi Internasional LKLB di Jakarta, tanggal 11 November 2025.
“Saat ini kita hidup di dunia yang lebih terhubung dari sebelumnya, namun lebih terpecah daripada yang pernah kita lihat sebelumnya. Teknologi memungkinkan kita mengirim pesan ke seluruh dunia dalam hitungan detik, tetapi dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun pemahaman yang tulus,” kata Arrmanatha.
Sesi Dinner Reception diisi dengan penampilan istimewa dari 16 guru Muslim dan Kristen yang merupakan alumni Program LKLB untuk Perdamaian di Ambon, Maluku. Para guru ini berkolaborasi dengan duduk bersama untuk menciptakan lagu-lagu bertemakan perdamaian. Latar belakang konflik agama yang terjadi di Ambon sekitar tahun 1999 menjadikan keterlibatan guru sebagai agen perubahan dalam masyarakat semakin penting untuk mendukung proses rekonsiliasi.
Terkait hal itu, Wamenlu mengapresiasi pelaksanaan Konferensi Internasional LKLB yang dinilainya sebagai acara penting terutama dalam situasi global masa kini. Ia memuji kerja sama antara masyarakat sipil dan pemerintah yang menunjukkan komitmen kolektif bahwa pemahaman antar agama dan budaya bukanlah sebuah teori, melainkan kebutuhan.
“Saya berterima kasih kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI dan Institut Leimena atas kepemimpinan mereka dalam menyelenggarakan acara penting ini,” ujar Arrmanatha.
Sebanyak 16 guru Muslim dan Kristen yang merupakan alumni Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) untuk Perdamaian dari Ambon, Maluku, menampilkan puisi dan lagu karya mereka yang bertemakan perdamaian.
Arrmanatha mengatakan masyarakat kini cenderung lebih banyak menggulir layar namun kurang mampu mendengarkan. LKLB memberikan kemampuan kepada guru, siswa dan masyarakat untuk bertanya tentang apa yang kita miliki bersama, bukan hanya dimana kita berbeda. Ia menegaskan dalam kehidupan sehari-hari bagaimana belajar untuk memahami sebelum menghakimi, berdiskusi sebelum menolak, dan menghormati sebelum bereaksi.
“Itulah mengapa saya percaya, karya Anda tentang Literasi Keagamaan Lintas Budaya bukan hanya teori akademis tetapi juga keterampilan hidup. Ini mengajarkan kita untuk menavigasi perbedaan dengan kebijaksanaan, bukan ketakutan. Ini membantu kita melihat keragaman bukan sebagai ancaman, tetapi sebagai kekuatan,” ujarnya.
Arrmanatha meyatakan tema Konferensi Internasional LKLB yaitu “Education and Social Trust in Multifaith and Multicultural Societies” selaras dengan diplomasi Indonesia yang mengarah pada kemajuan perdamaian, moderasi dan saling menghormati. Melalui partisipsi aktif dalam United Natiosn Alliance of Civilizatios (UNAOC), Indonesia berupaya membangun jembatan antarbangsa dan antarumat manusia. Pada 2014, Indonesia menjadi tuan rumah Global Alliance Forum di Bali, yang menegaskan kembali pentingnya dialog, toleransi, dan inklusi sebagai fondasi utama bagi perdamaian yang berkelanjutan.
Lebih lanjut Armanatha mengatakan sejak 2004, Indonesia telah memprakarsai dialog antaragama dengan sekitar 37 negara mitra. Melalui program LKLB, lebih 10.000 guru telah dilatih untuk mengintegrasikan empati dalam pendidikan. Di tingkat regional, ASEAN juga telah memasukkan LKLB ke dalam visi Komunitas ASEAN 2045.
“Di ASEAN, kami memandang keberagaman bukan sebagai hambatan, melainkan sumber daya terbesar kami. Kementerian Luar Negeri juga memahami pentingnya mengedepankan dialog, moderasi dan inklusi di panggung global, karena perdamaian di luar negeri berawal dari pemahaman di dalam negeri,” paparnya.
Direktur Eksekutif Sasakawa Peace Foundation, Nobuko Kayashima, menyebut Program LKLB sebagai inisiatif paling menjanjikan untuk membangun perdamaian melalui pendidikan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Sasakawa Peace Foundation Nobuko Kayashima berkomitmen memperkuat pendidikan perdamaian lintas agama di Indonesia melalui implementasi program LKLB di Ambon, Maluku. Selama dua tahun, program yang dijalankan bersama dengan Institut Leimena ini telah meluluskan 168 guru dan pendidik dari sekolah Muslim dan Kristen sebagai upaya memperkuat rasa saling percaya di dalam masyarakat Maluku.
“Kami menghargai pendekatan (Institut) Leimena yang berbasis riset kebutuhan lokal. Kami terkesan dengan program LKLB, lalu kami adaptasi dan implementasikan program ini dalam program pelatihan guru di Ambom. Program ini mendapatkan sambutan positif dari sekolah, tokoh agama dan peserta lainnya,” kata Nobuko.
Nobuku meyakini LKLB menjadi salah satu inisiatif paling menjanjikan untuk membangun perdamaian melalui pendidikan, memperkuat modal sosial, serta menumbuhkan kepercayaan lintas budaya dan agama serta mengatasi prasangka dan ketidakpercayaan.
Ia mengingatkan mengejar perdamaian adalah sebuah pilihan dan mengedepankan dialog dapat memperbaharui harapan bagi generasi berikutnya.
“Setiap kali kita memilih empati daripada ego, kita membuat dunia digital maupun nyata menjadi sedikit lebih ramah. Jika intoleransi adalah percikan konflik, maka literasi dan pemahaman menjadi kayu bakar bagi perdamaian,” ujar Nobuko. [IL/Chr]
