Para guru peserta Hybrid Upgrading Workshop (HUW) Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Palu, Sulawesi Tengah, mengunjungi Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha pada 20 September 2026, yang merupakan pura terbesar di provinsi tersebut dengan nuansa Bali.
Palu, LKLB News – Pengalaman konflik komunal di sejumlah wilayah Indonesia termasuk di Poso, Sulawesi Tengah, pada sekitar 1998 sampai 2001 meninggalkan pelajaran mahal tentang rapuhnya kepercayaan sosial ketika identitas agama bertemu dengan kepentingan politik, ekonomi, sosial, serta disinformasi. Bertolak dari hal itu, pendidikan perlu diarahkan untuk membangun kompetensi generasi muda agar dapat hidup bahkan bekerja sama dalam masyarakat majemuk.
Hal itu disampaikan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Datokarama Palu, Sulteng, Prof. Lukman Thahir, dalam Hybrid Upgrading Workshop (HUW) atau Lokakarya Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang diadakan UIN Datokarama dan Institut Leimena di Palu, Sulteng, pada 20 September 2026.
Menurut Lukman, keberagaman tidak bisa hanya dijelaskan secara deskriptif “kita berbeda”, melainkan sebagai kenyataan bahwa orang-orang yang berbeda itu hidup dalam ruang sosial yang sama dan saling berhubungan satu sama lain.
“Keberagaman tidak dapat dikelola hanya dengan prinsip ‘Saya tidak mengganggu Anda, dan Anda jangan mengganggu saya.’ Itu penting, tetapi belum cukup. Masyarakat majemuk membutuhkan kemampuan lebih tinggi untuk berjumpa, memahami, membangun kepercayaan, dan bekerja sama melampaui batas identitas,” kata Lukman.
Lukman mengingatkan bahwa guru berhadapan dengan manusia muda yang sedang membangun cara pandangnya terhadap diri sendiri, agamanya, orang lain, dan dunia. Itulah sebabnya, generasi sekarang yang duduk di sekolah tidak seharusnya mewarisi prasangka agama dari generasi sebelumnya, sebaliknya kebijaksanaan dari pengalaman akan kegagalan dan konflik di masa lalu.
“Pertanyaannya bagi kita sebagai pendidik, apa yang ingin kita wariskan kepada anak-anak kita: ingatan tentang siapa yang harus dicurigai, atau kemampuan untuk hidup bersama tanpa kehilangan identitas?” ujar Lukman.
Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Pniel merupakan salah satu gereja yang terdampak dari bencana gempa besar di Palu tahun 2018.
Pertama Kali Masuk Gereja
Dalam HUW LKLB di Palu, para peserta melakukan kunjungan ke dua rumah ibadah yaitu Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID) Pniel dan Pura Agung Wana Kertha Jagatnatha. Di gereja, para guru disambut oleh Ketua Majelis GPID Pniel, dr. Roberthy D. Maelissa, yang mengaku bersyukur bisa mendapatkan kesempatan perjumpaan dengan guru-guru lintas agama.
Robethy mengatakan perjumpaan dengan guru-guru LKLB ini adalah kedua kalinya setelah kunjungan dalam HUW LKLB tahun 2023. Ia mengatakan bahwa sebagai sesama umat ciptaan Tuhan, sekalipun berbeda, tetap ada ruang untuk bisa bergandengan tangan merawat bumi ciptaan Tuhan.
“Kita semua adalah umat ciptaan Tuhan, meskipun berbeda dalam keyakinan dan adat istiadat,” kata dr. Roberthy.
Di GPID Pniel Palu, para guru peserta HUW LKLB masuk dalam kelompok-kelompok kecil yang dipimpin oleh pendeta atau majelis gereja, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar agama Kristen. Sesi dialog ini menjadi bermakna karena menjadi sarana untuk menghapus prasangka dan kekhawatiran para guru yang hampir seluruhnya baru pertama kali memasuki gedung gereja.
Kunjungan para guru LKLB di GPID Pniel Palu diakhiri dengan menyanyikan lagu lawas “Kemesraan”, yang membawa suasana haru dan kehangatan diantara para peserta.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sulawesi Tengah, I Wayan Sudiana, menyambut kedatangan para peserta HUW LKLB di Palu.
Terbuka dan Menyenangkan
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Sulawesi Tengah, I Wayan Sudiana, mengatakan umat Hindu sangat terbuka untuk menerima kunjungan lintas agama. Di Provinsi Sulteng sendiri, umat Hindu berjumlah 197.000 orang yang tersebar di 11 kabupaten/kota.
Dalam sesi diskusi kelompok, I Wayan menjawab sejumlah pertanyaan, seperti alasan runtuhnya Kerajaan Hindu di Nusantara, ritual suci umat Hindu seperti melilit pohon besar dengan kain, aturan masuk pura, sesajen, dan lain-lain. Semua pertanyaan disampaikan secara lugas dan dijawab dengan keterbukaan sehingga perbincangan lintas agama suasana menjadi cair dan menyenangkan.
“Pura kami sangat terbuka namun ada etika-etika yang harus kita jaga misalnya tidak bisa masuk sembarangan ke tempat sembahyang karena penting untuk menjaga kesucian pura,” kata I Wayan Sudiana.
Salah satu peserta, Guru Akidah Akhlak MAN 1 Kota Palu, Supardi, mengatakan kunjungan ke pura dan gereja telah mengubah cara pandangnya terhadap penganut agama lain. Ia mengatakan perbedaan ternyata tidak bisa hanya dilihat dari luar atau permukaan saja, namun harus mengenal dan bercakap-cakap dengan mereka yang berbeda agama.
“Sebagai Muslim, saya baru menyadari ada tujuan yang sama di agama Islam dan Kristen, misalnya di Kristen ada persembahan untuk pelayanan diakonia atau pembangunan gereja, di Islam juga ada sedekah, zakat, dan infaq,” ujar Supardi.
Direktur Program Institut Leimena, Daniel Adipranata, mengatakan Program LKLB yang telah dijalankan sejak tahun 2021 berupaya mendorong terciptanya ruang-ruang perjumpaan di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk. Saat ini, jumlah alumni Program LKLB Institut Leimena telah mencapai lebih dari 12.000 diantaranya 859 berasal dari Provinsi Sulawesi Tengah.
“Kita mungkin mempunyai tradisi dialog lintas agama, tapi sebenarnya itu hanya menyentuh kalangan elitis, di tingkat pemuka atau tokoh agama mungkin tidak ada masalah, tapi di bawah belum tentu dan belum ada infrastruktur untuk membangun toleransi sampai ke masyarakat,” kata Daniel. [IL/Chr]