Para pembicara dalam sesi pembukaan Hybrid Upgrading Workshop (HUW) Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Solo, Jawa Tengah pada 8 Mei 2026, yaitu Associate Professor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayah Khisbiyah (tengah), Manager Program Institut Leimena, Julinar Sinaga (paling kanan), dan Pegiat pendidikan di Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius (Pappirus), Listia Suprobo.
Jakarta, LKLB News – Keberhasilan penerapan Kurikulum Nasional, yang menekankan kepada pembelajaran mendalam (deep learning), harus didukung oleh kemampuan guru dalam berkreasi menyampaikan materi ajar. Guru sebagai aktor utama pembelajaran mendalam perlu mendorong terjadinya proses belajar secara berkesadaran dan bermakna, termasuk melalui internalisasi nilai-nilai keberagaman.
Hal itu diangkat dalam Hybrid Upgrading Workshop (HUW) yang diadakan Institut Leimena di Solo, Jawa Tengah, pada 8-10 Mei 2026. HUW mengangkat tema “Penguatan Kompetensi Guru Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Implementasi Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dalam Pembelajaran Kurikulum Nasional”.
Associate Professor Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayah Khisbiyah, menjelaskan Kurikulum Nasional, yang berawal dari Kurikulum Merdeka, mendorong perubahan paradigma dengan menekankan posisi peserta didik sebagai subjek dari proses pembelajaran. Kurikulum ini secara umum membiasakan penghormatan terhadap keragaman dalam praktik pembelajaran di sekolah maupun kehidupan sehari-hari.
“Kurikulum Nasional sangat relevan dengan upaya mengembangkan kesadaran tentang pentingnya memahami, menghargai, dan meningkatkan kemampuan mengelola keragaman bagi generasi muda. Ini selaras dengan tujuan LKLB yang digagas Institut Leimena,” kata Yayah selaku narasumber HUW.
Yayah memaparkan kasus-kasus intoleransi masih sering terjadi bahkan tanpa disadari menjadi masalah laten dalam masyarakat. Ia juga menilai fenomena konservatisme masih menjadi tantangan dalam kehidupan berbangsa termasuk dalam dunia pendidikan.
Survei Setara Institut dan INFID tahun 2023 mengungkapkan bahwa 70,2% siswa SMA memiliki sikap toleran, namun terjadi peningkatan jumlah pelajar intoleran aktif sebesar 61,1%, termasuk 56,3% mendukung penerapan Syariat Islam dan 83,3% menilai Pancasila bukan ideologi negara yang permanen dan dapat diganti.
Sebanyak 22 guru alumni LKLB yang menjadi peserta HUW LKLB di Solo berasal dari Provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.
Yayah mengatakan guru berperan penting membentuk karakter siswa yang mampu melihat “yang lain”, atau orang yang berbeda, dengan rasa hormat. Ia menegaskan LKLB bukan hanya sebuah konsep, melainkan kompetensi praktis tentang bagaimana guru bisa menerapkan pendidikan inklusif.
“Berbagai riset merekomendasikan pentingnya pendidikan inklusif dan implementasi kurikulum yang mendukung toleransi beragama di sekolah-sekolah di Indonesia,” ujarnya.
Program Manager LKLB, Julinar Sinaga, menjelaskan HUW LKLB telah dilaksanakan 24 kali di sejumlah provinsi di Indonesia. HUW ini merupakan forum pembelajaran berkelanjutan untuk para alumni LKLB, yaitu mereka yang sudah lulus pelatihan dasar LKLB.
“Berdasarkan penelitian, salah satu profesi paling dipercaya di masyarakat adalah guru. Penelitian ini bukan hanya di Indonesia, tapi melibatkan 32 negara di seluruh dunia, artinya guru memiliki peran krusial untuk membawa perubahan dalam masyarakat,” kata Julinar.
Salah satu peserta HUW, Guru Bahasa Jawa SMK Tujuh Lima 1 Purwokerto, Budiadi Nehemiyah, mempresentasikan modul insersi LKLB untuk mata pelajaran Aksara Jawa dan Harmoni Budaya.
Tidak Menambah Beban Guru
Pegiat pendidikan di Perkumpulan Pengembang Pendidikan Interreligius (Pappirus), Listia Suprobo, menjelaskan integrasi LKLB ke dalam Kurikulum Nasional (Kurnas) tidak akan menambah beban guru. Insersi bisa dilakukan baik melalui pembelajaran intrakurikuler, kokurikuler, maupun ekstrakurikuler.
“Insersi LKLB ke dalam Kurikulum Nasional berarti menyisipkan kompetensi untuk mengembangkan nilai-nilai LKLB tanpa menambah jam pelajaran tersendiri sehingga tidak menjadi beban tambahan untuk guru,” kata Listia.
Menurut Listia, metode deep learning justru semakin membuka ruang bagi insersi LKLB. Misalnya, guru bisa menyampaikan kisah-kisah inspiratif yang sejalan dengan konsep LKLB.
“Ada satu kisah persahabatan beda agama yang nyata dari Damaskus, Suriah, yaitu persahabatan antara Muhammad seorang Muslim yang buta yang selalu menggendong Samir, seorang Kristen, yang lumpuh dan penderita dwarfisme, ini bisa memantik diskusi di kelas,” kata Listia memberi contoh.
Salah seorang peserta HUW LKLB, Guru Bahasa Jawa SMK Tujuh Lima 1 Purwokerto, Budiadi Nehemiyah, memasukkan konsep LKLB dalam mata pelajaran yang diampunya pada topik Aksara Rekan dan Aksara Swara.
Budiadi menjelaskan pada kompetensi pribadi, siswa didorong menghargai identitas budaya sendiri (aksara Jawa). Lalu kompetensi komparatif, siswa bisa memahami bahwa Aksara Jawa bersifat adaptif dalam menyerap istilah-istilah keagamaan yang beragam.
“Sedangkan, kompetensi kolaboratif, siswa diminta mencari satu istilah keagamaan dan menuliskan memakai Aksara Rekan lalu mendiskusikan dengan temannya tentang makna kata tersebut dalam konteks kebaikan bersama,” katanya.
Menanggapi modul yang dibuat Budiadi, Listia mengatakan pendekatan LKLB memperkuat pembelajaran yang bermakna. Itu sebabnya, insersi LKLB harus dirancang oleh guru sebelum memulai pembelajaran.
“Buah yang diharapkan dari insersi LKLB adalah pembelajaran yang makin diperkaya dengan praktik nilai sehingga dalam keluarga, masyarakat, dan negara, siswa dapat mempraktikkan kolaborasi untuk dunia yang adil, damai, dan sejahtera,” ucap Listia. [IL/Chr]
