Alumni Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya, Arif Prasetyo, yang merupakan guru musik kontemporer di SLB A Yaketunis, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memiliki semangat belajar tinggi termasuk untuk mengimplementasikan keberagaman dalam ruang kelas.
Jakarta, LKLB News – Terlahir sebagai penyandang disabilitas netra, Arif Prasetyo (28), semakin menyadari pentingnya pendidikan untuk membawa perubahan sosial. Ia adalah guru alumni Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang memiliki banyak sekali prestasi karena keteguhannya untuk mendobrak keterbatasan fisik dan meruntuhkan berbagai stigma yang kerap dilekatkan kepada seorang disabilitas.
Arif hidup di dalam keluarga yang hampir seluruhnya penyandang disabilitas netra, baik ayah dan ibunya maupun dua saudaranya, kecuali adik nomor tiga yang disebutnya sebagai “cahaya” dalam keluarga. Untuk menghidupi keempat anaknya, orangtuanya bekerja sebagai pemijat tuna netra. Alih-alih mengutuki kenyataan hidup tersebut, Arif justru tekun menuntut ilmu setinggi-tingginya demi mengangkat martabat keluarga.
“Disabilitas itu mendapatkan stigma ganda, stigma sebagai disabilitas ditambah stigma lainnya termasuk stigma agama,” kata Arif yang belum lama ini terpilih sebagai awarde dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk menempuh pendidikan S2 di Universitas Negeri Islam (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Arif menuturkan pendidikan menjadi “tongkat” untuk menuntun langkah hidupnya. Keyakinan itulah yang mendorongnya untuk mendedikasikan diri sebagai guru honorer di SLB A Yeketunis, Yogyakarta, untuk mata pelajaran Seni Musik Kontemporer. Arif memang piawai dalam bermusik khususnya perkusi, karena ayahnya juga pernah bekerja sebagai pengamen jalanan.
Arif bersama rekan satu kelompoknya dalam dalam Hybrid Upgrading Workshop (HUW) LKLB di Solo, Jawa Tengah, pada 8-10 Mei 2026.
Arif mengatakan musik adalah bahasa universal yang dapat dipahami semua orang, terlepas dari agama, budaya, bahkan kondisi fisik. Ia berharap musik bisa menjadi jembatan bagi para siswanya untuk mendapatkan pencerahan tentang keberagaman.
Menurutnya, hal unik dari Program LKLB adalah pendekatan LKLB memberikan pemahaman secara sederhana namun filosofis mengenai kemajemukan. Program LKLB juga mampu menurunkan secara praktis melalui tiga kompetensi yang harus dimiliki seseorang agar mampu hidup dalam masyarakat majemuk.
“Ada materi yang menyampaikan ‘gado-gado’ sebagai representasi dari keberagaman. Ternyata keberagaman bisa dicontohkan dalam sebuah makanan, jadi metodenya bisa sederhana tidak melulu dengan teori yang tinggi-tinggi, sehingga LKLB ini bisa terus mendekat ke masyarakat,” ujar Arif.
Kecintaannya untuk belajar membuat Arif aktif dalam berbagai komunitas, bahkan kerap menjadi pionir. Ketika pertama kali mendengar informasi tentang pelatihan LKLB, Arif sedang menempuh studi S1 Sosiologi di UIN Sunan Kalijaga. Ia merasa tertarik lalu mendaftarkan diri.
“Literasi keagamaan lintas budaya ini bagi para disabilitas menjadi sesuatu hal langka karena masih banyak disabilitas yang fokus kepada bagaimana cara survive dalam kehidupan bermasyarakat termasuk dalam konteks agama dan budaya,” kata Arif.
Salah satu kegiatan dalam HUW LKLB adalah kunjungan dan dialog di rumah ibadah untuk memperkuat pengenalan terhadap agama lain (kompetensi komparatif) agar semakin tumbuh saling pemahaman dan pengertian.
Punya Prasangka Agama
Arif mengakui pernah memiliki prasangka terhadap agama lain karena pengalaman hidupnya. Ia pernah dijanjikan kesembuhan dari orang yang berbeda agama, namun dengan syarat tertentu, sehingga membuatnya memiliki stigma negatif dan keenganan untuk berelasi dengan orang dari agama lain.
“Dulu saya pernah mendapatkan tawaran dari agama tertentu untuk disembuhkan matanya, tapi syaratnya harus datang ke tempat ibadah tertentu. Dari situlah stigmatisasi terhadap agama tertentu itu ada,” ucapnya.
Ia juga memiliki pengalaman bagaimana disabilitas sering dianggap “mahkluk suci”. Orang sering meminta doa dari Arif agar keinginan mereka terkabul. Ini menunjukkan fenomena minimnya literasi masyarakat tentang agamanya sendiri, yang dalam LKLB disebut sebagai kompetensi pribadi.
“Saya pernah diberi uang Rp 2.000 sambil dibilang ‘doakan anak saya sembuh dari penyakit tertentu’. Ini berarti ada yang salah, dia dapat literasi agama seperti itu dari mana? Padahal disabilitas juga sama seperti orang lain,” ujarnya.
Dari semua pengalaman itu, Arif mengatakan Program LKLB mampu memberikan wawasan yang lebih luas dan mengubah cara pandangnya terhadap orang lain yang berbeda agama. Ia mencontohkan, melalui kompetensi komparatif LKLB, seseorang belajar bagaimana berempati kepada agama lain sekaligus belajar menjadi sahabat yang mampu berempati. LKLB juga mendorong terjadinya kolaborasi untuk kebaikan bersama.
“Jika dulu saya masih memiliki pikiran negatif tentang keberagaman dalam beragama, sekarang bisa lebih baik. Saya bisa merasakan bahwa ternyata setiap pihak atau komunitas itu pernah mendapatkan diskriminasi tergantung dari lingkungan dan kondisinya,” ujarnya.
Sejumlah peserta HUW LKLB mempresentasikan hasil diskusi dari studi kasus diskriminasi yang terjadi di masyarakat.
Gaungkan Inklusivitas
Arif menyampaikan keinginannya untuk bisa menerapkan pendekatan LKLB melalui pembelajaran di kelas. Ia mengatakan LKLB sejalan dengan konsep inklusivitas yang sering digaungkannya dalam komunitas disabilitas.
Musik, ujarnya, bisa menjadi media untuk berkolaborasi dengan orang dari berbagai agama dan budaya. Arif mengajar musik kontemporer yang turunannya adalah hadroh kontemporer, yaitu seni musik Islami yang menggabungkan alat musik tabuh tradisional (rebana) dengan alat musik modern.
“Saya akan mengajak siswa-siswa saya berkolaborasi dengan sesama disabilitas yang jika memungkinkan lintas agama, untuk mengenal lagu-lagu dari budaya dan agama lain,” kata Arif.
Arif mengatakan moto hidupnya terangkum dalam satu kalimat, “Setiap gerakku adalah karya”. Ia berusaha mewujudkan moto tersebut dalam berbagai aktivitasnya khususnya untuk pemberdayaan kelompok disabilitas.
Selain musik, Arif juga aktif dalam komunitas sutradara film disabilitas, Sat Adhirajasa. Dari komunitas tersebut hadir film berjudul “Salah Doa”, “Benjol karena Pinjol, dan “Masih Tanda Tanya”. Arif juga mendirikan Braille School melalui komunitas Brailleiant Indonesia. [IL/Chr]
