Konferensi Internasional Religious Freedom and Human Dignity (RFHD) yang diadakan di Brigham Young University, Hawaii, Amerika Serikat, diikuti oleh para pakar global, akademisi, pengambil kebijakan, dan pemimpin agama.
Jakarta, LKLB News – Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) di Indonesia kembali diangkat dalam Konferensi Internasional Kebebasan Beragama dan Martabat Manusia atau Religious Freedom and Human Dignity (RFHD) yang diadakan oleh Brigham Young University (BYU) di Hawaii, Amerika Serikat pada 21-23 April 2026. Dalam konferensi bertemakan “Religion and Human Flourishing: Building Pathways to Peaceful Societies in South Asia” itu, Program LKLB yang dikembangkan Institut Leimena dianggap sebagai model yang berhasil membentuk agen-agen perdamaian masa kini dan masa depan.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menjadi salah satu narasumber dalam sesi “Forming Future Peacemakers: Religious Pluralism, Human Rights, and Cross-Cultural Religious Literacy” untuk menceritakan pengalaman Program LKLB di Indonesia sebagai sebuah studi komparatif untuk membangun masyarakat damai di Indonesia dan Asia Tenggara.
“Kehadiran Institut Leimena menunjukkan Program LKLB atau Cross-Cultural Religious Literacy sudah semakin diterima di dunia internasional, bahkan menjadi judul sesi sebelum penutupan yang akan diingat banyak orang. Istilahnya apa langkah selanjutnya, ‘what’s next?’, maka diperlihatkan contoh konkret dari Indonesia,” kata Matius.
Konferensi RFHD tersebut diadakan BYU Hawaii bekerja sama dengan International Center for Law and Religion Studies (ICLRS) BYU di Provo, Utah. Setiap tahun sejak 2023, Konferensi RFHD mengangkat perspektif dari berbagai kawasan mulai dari Asia (2023), Oseania (2024), Asia Tenggara (2025), dan terakhir Asia Selatan (2026).
Konferensi RFHD tahun 2026 mengeksplorasi bagaimana hukum, agama, pendidikan, dan masyarakat sipil dapat secara aktif memperkuat perdamaian dan martabat manusia di Asia Selatan sebagai salah satu kawasan yang paling beragam.
“Dalam Konferensi RFHD tahun 2025 tentang Asia Tenggara, Institut Leimena juga hadir sebagai narasumber dari Indonesia. Tahun ini berfokus kepada Asia Selatan antara lain India, Pakistan, Bangladesh, dan Sri Lanka, namun pengalaman Program LKLB Indonesia kembali diangkat sebagai contoh implementasi yang relevan,” ujar Matius.
Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, berbicara dalam sesi “Forming Future Peacemakers: Religious Pluralism, Human Rights, and Cross-Cultural Religious Literacy” .
Matius menjelaskan Program LKLB di Indonesia ditujukan bagi guru dan pendidik agar memiliki kompetensi berelasi dan bekerja sama dalam masyarakat majemuk. Tidak berhenti sampai di situ, guru juga dilatih untuk menurunkan kompetensi tersebut kepada murid-muridnya.
Salah satu landasan yang dipakai dalam LKLB adalah teori intergroup contact dari Gordon Allport, yang menjelaskan bahwa prasangka dapat dikurangi melalui interaksi antarkelompok dalam kondisi tertentu yaitu adanya tujuan bersama, kerja sama, interaksi yang bermakna, dan dukungan institusi. Program LKLB Indonesia juga didukung oleh modal kebangsaan yang kuat dari ideologi Pancasila dan Sumpah Pemuda.
“Program LKLB berhasil dilakukan melalui kerja sama Institut Leimena dengan puluhan mitra lembaga pendidikan, organisasi keagamaan, bahkan pemerintah, sebagai model untuk membangun perdamaian dan martabat manusia,” kata Matius.
Ia menambahkan keberagaman agama dan budaya merupakan kekayaan, tetapi juga dapat menjadi tantangan apabila tidak disertai upaya membangun saling pengertian. Itu sebabnya, martabat manusia perlu menjadi landasan moral bersama sekalipun setiap orang memiliki pandangan religius yang berbeda.
“Dalam masyarakat yang sangat beragam, setiap kelompok dapat memiliki cara pandang yang berbeda mengenai martabat manusia. Tanpa upaya serius untuk membangun pemahaman bersama, perbedaan tersebut dapat berkembang menjadi prasangka, kecurigaan, dan hilangnya kepercayaan,” jelasnya.
Matius Ho menjadi narasumber dalam sesi panel terakhir bersama Tina Ramirez Lee (President Hardwired Global, AS), Shahid Rehmat (Executive Director Youth Development Foundation Pakistan), Samson Salamat (Executive Director Centre for Human Rights Education Pakistan), dan moderator Aaron Shumway (Associate Professor in the Faculty of Religious Education BYU Hawaii).
Guru sebagai Agen Perdamaian
Dalam sesinya, Matius mengangkat kisah alumni Program LKLB yaitu Fatwa Nur Azizah, guru Al-Qur’an dan Hadits di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Magetan, Jawa Timur. Fatwa telah menjadi agen perdamaian yang memberikan pencerahan tidak hanya kepada para muridnya tetapi juga rekan-rekan sejawatnya.
Matius menjelaskan Fatwa memberikan pengalaman nyata kepada murid-muridnya melampaui berbagai teori toleransi di ruang kelas. Fatwa, ujarnya, mengajak murid-muridnya yang seluruhnya beragama Islam untuk mengunjungi sekaligus membersihkan Pura, rumah ibadah umat Hindu. Ini menjadi contoh nyata bahwa melalui LKLB, seseorang belajar melihat bahwa di tengah perbedaan keyakinan dan latar belakang, setiap orang memiliki martabat yang sama.
“Apa yang dilakukan Ibu Fatwa menunjukkan bahwa perdamaian tidak hanya dibangun melalui kebijakan tingkat tinggi, tetapi lewat individu-individu yang mampu membawa perubahan di lingkungan masing-masing,” katanya.
Matius menambahkan perkembangan Program LKLB juga telah merambah ke kawasan Asia Tenggara, antara lain Vietnam dan Filipina. LKLB telah masuk dalam dokumen resmi ASEAN 2045: Our Shared Future yang diadopsi pada KTT ASEAN ke-46 di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 26 Mei 2025. Dalam dokumen itu disebutkan LKLB sebagai strategi untuk membangun kohesi sosial di Asia Tenggara.
“ASEAN yang terdiri dari 11 negara anggota dengan berbagai latar belakang agama serta budaya, pendekatan LKLB dapat membantu membangun masyarakat yang lebih inklusif dan kohesif,” tandas Matius. [IL/Chr]
