Direktur Eksekutif Institut Leimen, Matius Ho, menjadi salah satu narasumber dalam konferensi internasional bertemakan “Promoting Pluralism Through Religious Cultural Heritage Preservation” di University of Oxford, Amerika Serikat.
Jakarta, LKLB News – Di dalam masyarakat majemuk, keberadaan rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat peribadatan tetapi bisa dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang hidup untuk merawat keberagaman dan kohesi sosial. Institut Leimena melalui Program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) berupaya mengembangkan fungsi rumah ibadah sebagai bagian dari instrumen pendidikan toleransi.
Hal itu disampaikan Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, dalam paparannya sebagai salah satu narasumber konferensi internasional bertemakan “Promoting Pluralism Through Religious Cultural Heritage Preservation” yang diadakan oleh Centre for Law and Religion Regent’s Park College, University of Oxford, dan Pepperdine University pada 17-18 Maret 2026.
“Program LKLB lebih jauh dari sekadar dialog namun mendorong kerja sama lintas agama dengan membangun kompetensi dan literasi agar seseorang bisa terlibat konstruktif dalam masyarakat yang majemuk secara agama dan budaya,” kata Matius Ho dalam konferensi yang diadakan di Exeter College, University of Oxford.
Matius mengatakan salah satu kompetensi yang dibangun dalam LKLB adalah kompetensi komparatif, yaitu mendorong seseorang untuk mengenal agama lainnya dengan tujuan menumbuhkan empati dan menghapus prasangka lintas agama. Dalam implementasinya, Institut Leimena bekerja sama dengan berbagai mitra termasuk lembaga keagamaan untuk memfasilitasi para guru dalam melakukan dialog lintas agama di rumah-rumah ibadah.
“Dunia internasional harus melihat bagaimana rumah-rumah ibadah sebagai situs suci yang masih aktif berfungsi dapat diintegrasikan ke dalam sistem pelatihan dan pedagogi dalam Literasi Keagamaan Lintas Budaya ini,” ujar Matius.
Konferensi yang merupakan penutup dari Project “Sacred Sites for Promoting Pluralism” (SSPP) ini diadakan oleh Centre for Law and Religion Regent’s Park College, University of Oxford, dan Pepperdine University.
Matius menyampaikan Program LKLB dari Indonesia membawa perspektif berbeda dalam konteks situs suci atau warisan budaya keagamaan untuk mempromosikan keberagaman. Ia mengatakan diskusi dalam konferensi termasuk sejumlah proyek besar yang diinisiasi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) dan lembaga lokal, lebih banyak berfokus pada bangunan atau situs suci yang sudah tidak terpakai, rusak, atau memiliki fungsi sangat minim.
Ia menyebut konferensi umumnya membahas upaya melatih masyarakat setempat untuk melestarikan dan merawat situs suci dan warisan keagamaan dari kehancuran karena usia maupun serangan kelompok ekstrimis.
“Ini adalah usaha yang sangat besar dan penting. Namun, jika kita hanya berbicara tentang preserving sacred sites (merawat situs suci) yang sudah tidak berfungsi, maka esensi promoting pluralism (mempromosikan pluralisme) belum terpenuhi,” ujar Matius.
Dr. Chris Seiple yang merupakan penggagas pendekatan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) sekaligus salah satu narasumber utama Program LKLB di Indonesia juga hadir menjadi pembicara.
Menghidupkan Toleransi
Matius menyatakan dalam dunia yang semakin terpolarisasi, dialog lintas agama tidak akan cukup, melainkan dibutuhkan kerja sama secara nyata. LKLB membekali para pendidik dengan tiga kompetensi inti yaitu pribadi, komparatif, dan kolaboratif. Tujuannya bukan untuk mencetak para guru menjadi ahli teologi atau pakar agama, melainkan membangun literasi agar mereka memiliki kapasitas dan kompetensi untuk terlibat secara konstruktif dan inklusif dalam masyarakat yang majemuk secara agama dan budaya.
“Upaya merawat merawat pluralisme bukan hanya soal menjaga warisan masa lalu, melainkan menghidupkan toleransi dalam keseharian masyarakat modern,” kata Matius.
Konferensi yang dihadiri oleh akademisi, pengambil kebijakan, dan pimpinan organisasi masyarakat sipil ini menjadi penutup dari proyek bertajuk Sacred Sites for Promoting Pluralism (SSPP) yang diinisiasi oleh Pepperdine University untuk meningkatkan kesadaran pelestarian situs suci serta potensinya untuk mempromosikan keberagaman.
Kehadiran Institut Leimena dalam konferensi tersebut adalah undangan kedua, setelah hadir dalam forum serupa pada 15 Maret 2024 di Pepperdine University, Swiss. Kehadiran Institut Leimena dalam dua kali konferensi proyek SSPP menegaskan bahwa program LKLB dinilai sebagai model yang sangat penting dan strategis dalam inisiatif global mengenai pluralisme. [IL/Chr]
