LKLB: Tempat Saya Belajar Menghadirkan Ruang Aman untuk Bertumbuh Bersama, Bukan Mendominasi
Penulis (Hilmi Azizi) ketika menjadi fasilitator di Hybrid Upgrading Workshop di Surabaya pada 6-8 Februari 2026.
Oleh: Hilmi Azizi
LKLB Adalah komunitas pertama yang mempercayakan saya menjadi fasilitator, dan tahun 2024 itulah pertama kalinya mencoba memberanikan diri menerima tawaran untuk menjadi fasilitator dari Institut Leimena.
Awalnya saya mengira seorang pemimpin harus selalu berada di depan, menjadi yang paling siap, paling tahu, bisa mengatur peserta semaunya sendiri dan paling tegas dalam mengambil keputusan. Namun, sesi Briefing komunitas belajar LKLB yang dibawakan oleh kak Julinar dari Institut Leimena tahun 2024 lalu, membuat saya sadar.
Bayangan saya tentang fasililitator selama ini keliru. Dan saat pelaksanaan, saya semakin menyadari bahwa kepemimpinan jauh lebih dalam dari sekedar mengarahkan.
Satu momen paling berkesan[1] bagi saya selama mengikuti LKLB dan berperan sebagai fasilitator adalah ketika saya merasa di kelompok saya waktu itu sepertinya untuk mengawali pembicaraan lebih didominasi oleh saya selaku fasilitator.
Entah karena kecanggungan, karena harus satu meja dengan orang yang berbeda atau karena karakter mereka memang tidak banyak bicara (tidak heran saat akhir acara kelompok kami dapat kategori kelompok diam diam tiba-tiba tugas udah kelar duluan hehehe), sehingga saya merasa harus menurunkan intensitas bicara saya dengan cara memberikan pertanyaan pemantik pada pada anggota kelompok saya. Terutama saat sesi refleksi.
Saya mencoba meyakinkan pada mereka bahwa LKLB ini adalah ruang aman bagi kita untuk menimba informasi sebanyak banyaknya dari orang yang berbeda, dan tidak ada ancaman atau baper (bawa perasaan) dalam forum LKLB ini.
Saya semakin menyadari bahwa kepemimpinan jauh lebih dalam dari sekadar mengarahkan. Menjadi Fasilitator adalah tentang mendengarkan dengan empati, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan potensi orang lain.
Di LKLB, saya belajar bahwa menjadi fasilitator berarti menghadirkan ruang aman untuk bertumbuh bersama, bukan mendominasi. Namun memberdayakan peserta agar mampu memunculkan potensi yang dimiliki dengan cara mereka sendiri.
Kini saya memahami bahwa pemimpin yang efektif bukan hanya yang mampu membawa orang menuju tujuan, tetapi yang mampu membuat setiap orang merasa dilibatkan, dihargai, dan percaya pada kapasitas dirinya sendiri.
Akhirnya wawasan dan pengalaman sebagai fasilitator inilah yang mampu saya bawa ke ruang kelas saat melakukan pembelajaran.
Kini saya memahami bahwa pemimpin yang efektif bukan hanya yang mampu membawa orang menuju tujuan, tetapi yang mampu membuat setiap orang merasa dilibatkan, dihargai, dan percaya pada kapasitas dirinya sendiri.
Profil Penulis
Hilmi Azizi
Guru, SMA Unggulan BPPT Darus Sholah, Kab Jember, Jawa Timur
Alumni LKLB angkatan ke-36
.

0 Comments