Belajar Menjadi Jembatan: Menemukan Makna Kepemimpinan di LKLB
Penulis (Lisa Susanti) ketika menjadi fasilitator di Hybrid Upgrading Workshop di Surabaya pada 6-8 Februari 2026.
Oleh: Lisa Susanti
Ketika pertama kali mengikuti kegiatan sebagai peserta pada tahun 2024, saya langsung merasakan suasana yang berbeda dibandingkan dengan pelatihan di komunitas lain.
Proses belajar yang berlangsung terasa lebih terbuka, hangat, dan memberi ruang bagi setiap peserta untuk berbagi pandangan. Pengalaman tersebut meninggalkan kesan yang mendalam bagi saya.
Dari situlah saya belajar bahwa ruang belajar yang aman dan nyaman sangat penting agar setiap orang berani menyampaikan pendapatnya.
Pengalaman sebagai peserta itu kemudian menjadi bekal ketika saya berperan sebagai fasilitator.
Saya berupaya menghadirkan suasana belajar yang menghargai setiap suara, sehingga peserta tidak merasa takut atau khawatir dihakimi ketika menyampaikan pandangan mereka.
Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena setiap peserta datang dengan latar belakang, keyakinan, pengalaman, dan cara pandang yang berbeda. Namun justru dalam keberagaman itulah proses belajar menjadi lebih kaya dan bermakna.
Ada sebuah momen saat diskusi menjadi cukup sensitif, saat adanya perbedaan sudut pandang peserta dalam satu kelompok. Dinamika diskusi harus tetap positif dan harmonis, sesuai dengan kesepakatan nama kelompok yaitu “SAHA”.
Disini saya menemukan titik pembelajaran terpenting, saya belajar lebih banyak mendengar dan mengarahkan percakapan agar tetap fokus pada nilai saling menghargai dan memahami.
Dari proses tersebut saya menyadari bahwa kepemimpinan seorang fasilitator adalah kepemimpinan yang melayani.
Tugas saya bukan mendominasi diskusi, tetapi membantu peserta menemukan pemahaman mereka sendiri melalui dialog yang terbuka dan reflektif.
Saya juga belajar bahwa membangun kepercayaan peserta merupakan kunci agar proses belajar berjalan dengan baik.
Highlight dari perjalanan saya sebagai fasilitator LKLB adalah ketika melihat peserta mulai saling mendengarkan dengan lebih terbuka, menghargai perbedaan, dan menyadari bahwa keberagaman bukanlah penghalang, tetapi justru kekuatan dalam kehidupan bersama.
Momen-momen seperti itu memberikan keyakinan bahwa proses fasilitasi yang dilakukan telah memberikan dampak positif.
Pengalaman ini juga membentuk cara pandang saya tentang kepemimpinan. Kepemimpinan yang bermakna bukan hanya tentang mengarahkan proses, tetapi tentang menciptakan ruang bagi setiap orang untuk belajar, bertumbuh, dan saling memahami.
Melalui pengalaman menjadi fasilitator LKLB, saya belajar bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menumbuhkan dialog, membangun kepercayaan, dan menginspirasi orang lain untuk melihat keberagaman sebagai anugerah.
Melalui pengalaman menjadi fasilitator LKLB, saya belajar bahwa pemimpin yang baik adalah mereka yang mampu menumbuhkan dialog, membangun kepercayaan, dan menginspirasi orang lain untuk melihat keberagaman sebagai anugerah.
Profil Penulis
Lisa Susanti
Guru, SMPN 1 Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur
Alumni LKLB angkatan ke-47

0 Comments