Menjaga Suara Tetap Punya Tempat
Penulis (Endri Winarni) ketika menjadi fasilitator di Hybrid Upgrading Workshop di Surabaya pada 6-8 Februari 2026.
Oleh: Endri Winarni
Saya ingin berbagi satu momen yang tak terlupakan saat saya memfasilitasi Hybrid Upgrading Workshop Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB). Saat itu, kami sedang menyusun kesepakatan kelas. Ada seorang peserta yang sangat vokal menyampaikan ide, tetapi ada satu ide yang kurang sesuai dengan semangat yang harus dibangun selama pelatihan.
Suasana sempat menegang. Peserta tersebut merasa pendapatnya kurang dihargai oleh saya sebagai fasilitator ketika mencoba mengarahkan diskusi pada saat memimpin jalannya pembuatan kesepakatan. Di titik itulah, ego saya diuji.
Titik Balik: Memilih Empati di Atas Argumentasi
Alih-alih terburu-buru meluruskan, saya memilih untuk menarik napas dalam-dalam. Saya mengingatkan kembali kesepakatan kita untuk saling menghormati, lalu memberikan ruang baginya untuk bercerita secara utuh. Di situlah titik baliknya.
Keajaiban terjadi saat seorang peserta mulai jujur tentang perasaannya. Suasana berubah drastis. Peserta lain mulai mendengarkan—bukan untuk mendebat, tapi untuk benar-benar memahami. Momen ini mengubah total pandangan saya tentang kepemimpinan.
Saya menyadari bahwa menjadi fasilitator bukan soal menjadi yang paling netral atau yang tercepat memberi solusi. Kepemimpinan adalah keberanian menciptakan ruang aman. Sebuah ruang di mana orang merasa cukup dihargai untuk berbagi, dan cukup didengar untuk tidak bersikap defensif.
Pelajaran Berharga:
- Empati Sebelum Argumentasi: Kepemimpinan dalam konteks keberagaman, rasa memahami harus mendahului perdebatan.
- Menjaga Ekosistem: Mengelola ruang dialog jauh lebih penting daripada mengontrol isinya.
- Mendengar adalah Kekuatan: Mendengarkan secara aktif adalah bentuk kepemimpinan yang paling tangguh.
Setelah saat itu, saya memandang fasilitator bukan sebagai posisi di depan, melainkan sebagai peran menjaga ekosistem dialog tetap sehat. Dalam LKLB, saya belajar bahwa pemimpin sejati bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling mampu memastikan setiap suara punya tempat.
Membawa Semangat LKLB ke Ruang Kelas
Pelajaran ini saya bawa pulang ke SMP Negeri 1 Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kini, saya memandang kelas bukan sekadar ruang akademik, melainkan “medan praktik” untuk menumbuhkan sikap saling memahami dalam keberagaman, dengan memasukkan nilai-nilai LKLB dalam pembelajaran dan juga di kelas.
Saya mulai dari langkah sederhana yang konsisten: Membangun Safe Space. Siswa saya ajak bersepakat bahwa setiap pendapat harus disampaikan dengan hormat, tanpa menyerang identitas, dan fokus pada pemahaman.
Saat membahas topik sensitif—seperti perayaan agama, praktik ibadah, atau isu sosial—saya mendorong mereka berbagi pengalaman pribadi, bukan sekadar opini. Dengan demikian mereka mampu berdialog tanpa kehilangan rasa hormat. Inilah wujud nyata nilai-nilai LKLB dalam keseharian saya sebagai guru.
Pesan untuk Rekan Alumni LKLB:
“Teruslah menjadi jembatan yang menghubungkan perbedaan. Dari keberanianmu merawat dialog lintas iman, lahirlah harapan bagi dunia yang lebih damai dan saling memahami.”
Dalam LKLB, saya belajar bahwa pemimpin sejati bukan yang paling banyak berbicara, tetapi yang paling mampu memastikan setiap suara punya tempat.
Profil Penulis
Endri Winarni
Guru Pendidikan Agama Hindu, SMP Negeri 1 Plemahan, kabupaten Kediri, Jawa Timur
Alumni LKLB Angkatan ke-58

0 Comments