Para peserta dan fasilitator workshop penyusunan program dan rencana pelaksanaan pembelajaran berbasis Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dalam kunjungan ke Gereja Katedral Ijen, Malang, Jawa Timur.

Jakarta, LKLB News – Sikap terbuka untuk mengenal orang yang berbeda agama merupakan landasan penting dalam literasi keagamaan lintas budaya (LKLB). Sebanyak 23 guru madrasah alumni pelatihan LKLB yang mengikuti workshop penyusunan program dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis LKLB di Malang, Jawa Timur pada 12-14 Agustus 2022, mendapatkan kesempatan berdialog secara langsung dengan pemuka agama Kristen dan Katolik.

Pengalaman itu diakui telah membuka sekat-sekat kecanggungan dan prasangka lintas agama. Para guru bisa bertanya apa adanya tentang agama Kristen atau Katolik dari sumber yang kompeten. Kegiatan workshop tersebut merupakan kerja sama antara Institut Leimena dan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

“Pasti hal yang paling sering ditanyakan adalah mengapa Romo tidak menikah? Disalurkan ke mana?” kata Pastor Kepala Paroki Katedral Malang, Romo Ignatius Adam Suncoko, sambil berkelakar dan disambut tawa meriah para peserta workshop saat melakukan kunjungan lapangan (field trip) ke Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel (Gereja Katedral Ijen Malang).

Romo Adam menyambut dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan para peserta workshop LKLB. Menurutnya, perbedaan adalah hal yang indah jika tahu menikmatinya yaitu hidup dalam persaudaraan.

“Harapan saya, kunjungan ke rumah ibadah dan/atau ke komunitas-komunitas keagamaan memberikan pengalaman untuk bertemu, berdialog, dan merasakan secara langsung lingkungan keagamaan bersangkutan,” kata Romo Adam.

Romo Adam juga menyampaikan ciri khas gereja Katolik, diantaranya memiliki hierarki yang jelas yaitu kepemimpinan tertinggi tingkat dunia disebut Kepausan yang saat ini dipimpin Paus Fransiskus. Tingkat di bawah Kepausan adalah Keuskupan dimana Indonesia memiliki 37 Keuskupan termasuk 2 Keusukupan di Jawa Timur (Surabaya dan Malang).

“Katedral berarti takhta atau kursi istimewa. Inilah yang membedakan gereja Katolik umumnya dengan Gereja Katolik Katedral. Kursi itu dikhususkan untuk uskup, artinya di dekat Katedral pasti ada tokoh uskup,” lanjutnya.

Mengenai hidup selibat (tidak menikah) untuk pastor, Romo Adam menjelaskan hal tersebut sebagai sebuah panggilan untuk mengabdi kepada Tuhan dan penyangkalan/pengorbanan diri.

Para guru alumni LKLB melihat ke dalam gedung gereja (atas) dan berdiskusi dalam kelompok-kelompok kecil (bawah).

 

Dialog semakin terasa intens saat para guru dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang difasilitasi oleh Romo Adam sendiri bersama para pengurus paroki serta frater (calon pastor). Para guru juga diajak untuk masuk ke dalam Katedral sambil berbincang santai mengenai simbol gereja, teologi Katolik, dan lainnya.

“Banyak diantara para guru yang baru pertama kali menginjakkan kaki ke gereja,” kata Koordinator Program Alumni LKLB, Daniel Adipranata.

Para peserta workshop berdiskusi secara hangat dan terbuka dalam kelompok saat mengunjungi Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang.

“Wisata Religi”

Selain ke Gereja Katedral Ijen, para guru juga mengunjungi Seminari Alkitab Asia Tenggara (SAAT) Malang. SAAT merupakan sekolah teologi tingkat sarjana untuk mempersiapkan para calon pendeta, rohaniawan, maupun guru-guru Kristen.

Dosen SAAT, Ferry Mamahit, mengajak para guru yang hadir untuk berdiskusi secara informal dan tidak perlu ragu bertanya. Ferry mengatakan dalam konteks Indonesia, sekolah untuk mempersiapkan calon rohaniawan Kristen berada dalam perguruan tinggi atau universitas, bukan seminari.

Sementara itu, Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga, Dr. Inayah Rohmaniyah, mengatakan kunjungan lapangan dalam workshop LKLB bertujuan memberikan pengalaman kepada para guru dalam relasi lintas agama secara nyata.

“Tujuannya simple, tak kenal maka tak sayang. Ini menjadi wisata religi yang penting karena para guru adalah agent of change, rujukan moral bagi generasi penerus bangsa saat mereka berhadapan dengan orang yang berbeda agama,” kata Inayah.

Menurut Inayah, peran guru sangat penting karena bekerja di ruang-ruang kelas untuk mendiseminasikan atau menumbuhkan idealisme LKLB. Kunjungan ke Katedral dan SAAT diharapkan bisa menambah wawasan serta menumbuhkan sikap toleransi.

Para peserta dan fasilitator workshop LKLB diterima oleh para dosen SAAT diantaranya Ferry Mamahit, Wilson Jeremiah, dan David Alinurdin.

Salah satu peserta workshop, Guru MA Roudlotul Jadid, Madinatul Munawaroh, mengaku kegiatan LKLB telah membuka pikiran dan sikapnya terhadap orang lain yang berbeda agama. “Ketika kita duduk sama orang yang berbeda agama rasanya gimana gitu. Tapi semenjak dari workshop sudah tidak lagi. Saya duduk dengan biarawati, tidak apa-apa,” katanya.

Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho mengatakan LKLB adalah ide yang sederhana yaitu memperkuat solidaritas kebangsaan dan kemanusiaan tanpa perlu takut untuk saling mengenal yang berbeda agama. Dia mengatakan LKLB merupakan kerangka untuk melatih kompetensi para guru dalam mengenal dan bekerja sama dengan orang yang berbeda agama.

“Kita tidak perlu sama, tapi kita perlu memahami dan menghargai perbedaan kita. Setelah itu, kita bisa bekerja sama dalam perbedaan tersebut karena diajarkan oleh semua agama untuk mengasihi Tuhan dan mengasihi manusia,” kata Matius.

Workshop penyusunan program dan RPP berbasis LKLB yang diadakan di Malang ini merupakan workshop kedua setelah pertama digelar di Yogyakarta. Dalam workshop ini, para guru madarasah diajarkan secara praktis mengembangkan program dan RPP dengan memasukkan nilai-nilai LKLB. Para guru yang terlibat workshop merupakan peserta yang sudah lulus dalam pelatihan LKLB. [IL/Chr]