Kepala SMK Al-Achyar Banyuwangi dan Alumni LKLB Angkatan 6, Muhamad Zulfar Rohman, mengajar tentang Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila berbasiskan Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).

Jakarta, LKLB News – Konsep Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) dinilai mampu mendukung penerapan Profil Pelajar Pancasila sebagai tujuan dari Kurikulum Merdeka. Meski belum diwajibkan oleh pemerintah pusat, sejumlah sekolah dan madrasah telah memulai penerapan Kurikulum Merdeka tersebut dengan mengadakan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Salah satunya, Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Al-Achyar Banyuwangi, Jawa Timur sekaligus Alumni LKLB Angkatan 6, Muhamad Zulfar Rohman. Menurut Zulfar, kompetensi dan keterampilan dalam LKLB sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila yang memuat enam ciri utama yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif.

“Pelatihan yang dilaksanakan Institut Leimena sangat membantu saya dalam menerapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila karena banyak konsep-konsep yang bersanding dan berirama sehingga ketika kita telah mendapatkan pelatihan ditambah workshop, kita punya modal,” kata Zulfar kepada LKLB News.

Zulfar aktif dalam berbagai kegiatan alumni LKLB baik secara daring maupun luring. Selain sebagai alumni pelatihan, Zulfar juga menjadi peserta workshop ke-1 LKLB di Yogyakarta dan fasilitator workshop ke-6 LKLB di Semarang yang dilaksanakan Institut Leimena bersama sejumlah mitra diantaranya Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Zulfar mengaku sangat termotivasi untuk menerapkan prinsip-prinsip LKLB karena melihat adanya kebutuhan mendesak bagi para siswanya. Sebagian besar alumni SMK Al-Achyar Banyuwangi akan melanjutkan pendidikan di luar kota terutama Bali sehingga otomatis mereka akan berhadapan dengan realitas agama dan suku yang berbeda.

“Untuk membekali peserta didik menghadapi perbedaan-perbedaan itu, saya terdorong mengimplementasikan konsep LKLB. Tujuannya menyiapkan mereka agar tidak gagap dalam menyikapi perbedaan,” ujar Zulfar.

Contoh praktik kompetensi kolaborasi LKLB yang mengacu pada Profil Pelajar Pancasila oleh sekelompok siswa SMK Al-Achyar, Banyuwangi.

Dalam praktiknya, Zulfar menyiapkan modul dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), maupun program kerja yang semuanya berbasiskan LKLB. Tema yang diangkat adalah “Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Berbasiskan LKLB” dengan mengacu kepada salah satu ciri dalam Profil Pelajar Pancasila, yaitu berkebinekaan global.

“Jadi saya mengimplementasikan LKLB sekaligus melakukan P5. Setelah saya menyusun RPP atau modul P5 berbasis LKLB, lalu saya melaksanakan pembelajaran di kelas dan terakhir mengevaluasi hasil dari penerapan saya tersebut,” ujar Zulfar.

Zulfar mengatakan penguatan Profil Pelajar Pancasila sangat relevan dengan tantangan kemajemukan terlebih dengan masifnya informasi di era digital saat ini. Itu sebabnya, peran guru sangat penting agar para siswa tidak sekadar menjadi “generasi follower”, melainkan memiliki karakter-karakter luhur bangsa Indonesia yang terangkum dalam Pancasila.

“Tantangan kita adalah sempitnya narasi karena dampak media yang terpolarisasi sehingga narasi kurang bervariasi untuk memberikan pembelajaran. Maka sebanyak mungkin kita perlu memperkenalkan anak-anak dengan beragam budaya, karakter, tradisi sehingga mereka terbiasa dengan perbedaan itu,” ungkapnya.

Guru Madrasah Ibtidaiyah Alkhairaat Boyaoge sekaligus Alumni LKLB Angkatan 16, Nur Hidayanti, juga mengimplementasikan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasiskan LKLB untuk mengajarkan keberagaman agama kepada para siswanya di kelas.

Persiapkan Siswa

Menurut Zulfar, para murid merasa antusias dengan P5 berbasis LKLB karena mendorong mereka semakin mengenali keberagaman, berpikir kritis dan kreatif, serta mampu bekerja sama sekalipun berbeda. Dia menambahkan mayoritas peserta didik di SMK Al-Achyar, Banyuwangi, akan melanjutkan pendidikan atau bekerja atau berbisnis di Bali, sehingga penanaman karakter Pancasila menjadi sangat penting.

Zulfar menekankan kepada para siswanya bahwa Indonesia terdiri dari beragam budaya dan agama agar terbangun perspektif keberagaman.

“Jika tidak dipersiapkan, alumni sekolah kami bisa mengalami geger budaya. Apalagi kita sadari hubungan antara umat Islam dan umat Hindu di Bali pernah rusak, sehingga kita harus membangun jalinan itu kembali dengan mengajarkan toleransi,” katanya.

Mantan Kepala Masjid Suciati Saliman Yogyakarta itu mengaku semakin merasakan urgensi pembelajaran LKLB setelah menjadi Kepala SMK Al-Achyar Banyuwangi.

“Saya secara langsung merasakan manfaat program LKLB ketika mendapatkan amanah menjadi kepala sekolah. Saya ikut berbagai platform belajar di LKLB yang bermanfaat dalam menerapkan karakter Pelajar Pancasila,” ujar Zulfar.

Zulfar mendorong para alumni LKLB agar aktif dalam berbagai program lanjutan dari pelatihan LKLB dengan menjadi peserta, moderator, presenter, maupun narasumber. Sejauh ini, alumni pelatihan LKLB bisa terlibat antara lain dalam upgrading course, workshop, webinar seri LKLB, atau talkshow bersama dengan media Hidayatuna.com.

“Kompetensi, keterampilan, dan pendekatan yang diusung LKLB ini sangat bermanfaat sekali bagi kita sebagai agen perubahan yang menentukan kualitas generasi bangsa Indonesia ke depan. Tentunya, peserta didik akan menghadapi tantangan lebih kompleks sehingga kita perlu siapkan mereka menjadi pembelajar sejati, pembelajar sepanjang hayat,” kata Zulfar. [IL/Chr]