Para pembicara “The Intersections of Faith and Development in Bangladesh” yang diadakan di Dhaka, Bangladesh, akhir Oktober 2023.

 

Dhaka, IL News – Dimensi agama menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan pembangunan global. Tantangan dunia yang majemuk dan semakin terpolarisasi membuat faktor agama potensial sebagai perekat antar kelompok untuk mendukung program-program pembangunan.

Hal tersebut diangkat dalam konferensi yang diadakan di Dhaka, Bangladesh, oleh Centre for Peace and Justice (CPJ), Brac University dan World Faiths Development Dialogue (WFDD) di Berkley Center for Religion, Peace, and World Affairs, Georgetown University pada 29-30 Oktober 2023. Konferensi mengangkat tema “The Intersections of Faith and Development in Bangladesh” (Persimpangan Iman dan Pembangunan di Bangladesh).

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, hadir sebagai salah satu narasumber dalam sesi bertajuk “Iman dan Pendidikan” dengan topik Literasi Keagamaan Lintas Budaya: Perspektif Indonesia. Menurut Matius, peran agama kurang dibicarakan dalam isu-isu keagamaan seperti dalam masalah kesehatan dan pendidikan. Padahal, keterlibatan faktor agama, termasuk lembaga keagamaan, diperlukan dalam mempertajam perspektif penyelesaian masalah pembangunan.

“Pengalaman Indonesia dengan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) ternyata banyak diminati, dan sebagian besar pertanyaan ditujukan kepada pengalaman Indonesia,” ujar Matius.

Matius mengatakan program LKLB yang diinisiasi Institut Leimena dan berbagai mitra lembaga pendidikan, keagamaan, bahkan kementerian, telah membekali guru dengan kompetensi dan pengalaman untuk berinteraksi dengan orang yang berbeda agama. Itu sebabnya, para guru yang mengikuti pelatihan LKLB bisa semakin kaya dalam pemahaman mereka untuk membangun masyarakat majemuk lewat pendidikan.

Matius menambahkan perjumpaan antar pemeluk agama menjadi kekuatan dari program LKLB di Indonesia. Para guru tidak sebatas berdialog secara formalitas, namun bisa bertanya secara langsung hal-hal yang menjadi keingintahuan mereka tentang agama lain dari pemuka atau pemeluk agama itu sendiri.

“Salah satu penanya yaitu dosen studi Islam dari Bangladesh juga meminta saran untuk pengembangan program serupa untuk madrasah di Bangladesh, sehingga saya menawarkan untuk menjajaki program pelatihan daring bagi guru-guru madrasah di Bangladesh,” lanjutnya.

Direktur Eksekutif Institut Leimena, Matius Ho, menyampaikan paparannya.

Matius mengisi sesi bersama dengan empat narasumber lainnya yaitu Dr. Sudipta Roy, senior researcher WFDD, Dr. AQM Shafiul Azam dari Direktorat Pendidikan Menengah dan Tinggi Bangladesh, Dr. Huhua Fan selaku spesialis program pendidikan UNESCO, dan Prof. Mahan Mirza yaitu Direktur Eksekutif Ansari Institute for Global Engagement with Religion.

Sementara itu, Dekan Pendidikan Umum dan Research Fellow CPJ, Brac University, Prof. Dr. Samia Huq, dalam sambutannya menyampaikan bahwa iman adalah bagian integral dari pemahaman dan perluasan kohesi sosial.

“Upaya kolektif, kohesif, dan konsultatif diperlukan untuk meningkatkan peran keimanan dalam mendorong pembangunan suatu bangsa,” kata Samia Huq.

Dari kiri ke kanan: Direktur Eksekutif World Faiths Development Dialogue (WFDD), Prof. Katherine Marshall, Dekan Pendidikan Umum dan Research Fellow Centre for Peace and Justice (CPJ), Brac University, Prof. Dr. Samia Huq, dan Executive Director, CPJ, BRAC University Manzoor Hasan OBE.

Senada dengan itu, Direktur Eksekutif WFDD di Berkley Center for Religion, Peace, and World Affairs, Georgetown University, Amerika Serikat, Prof. Katherine Marshall, menyoroti bahwa agama adalah salah satu faktor terpenting yang mempengaruhi semua bidang pembangunan lainnya. “Hal ini penting karena sering kali diabaikan atau sama sekali tidak terlihat dalam diskusi dan pengambilan keputusan terkait pembangunan,” tambahnya.

Konferensi “Persimpangan Iman dan Pembangunan di Bangladesh” ini berusaha mempertemukan para akademisi, pembuat kebijakan, dan praktisi untuk memfasilitasi diskusi dan saling berbagi pengetahuan serta peluang dan tantangan lewat perspektif agama dalam isu-isu pembangunan. Konferensi ini terdiri dari 4 sesi yang mengangkat tema tentang Iman dan Pendidikan; Iman, Pemuda, dan Media; Iman, Gender, dan Inklusi Sosial; Iman, Lingkungan, dan Perubahan Iklim. [IL/Chr]