Oleh: Ahmad Syafi’i

Pada usia 25 tahun menjadi guru tidaklah mudah. Perjalanan studi penulis dimulai sejak tahun 2002 hingga tahun 2004 di TK Pertiwi Kelurahan Unyi. Berlanjut tahun 2004 hingga tahun 2010 di SD Negeri 92 Uloe dan tahun 2010 sampai tahun 2013 di MTs As’adiyah Uloe. Setelah itu, penulis mulai menjejakkan kakiku melintasi kabupaten lain untuk menempuh studi di Pondok Pesantren As’adiyah Pusat Sengkang yakni di MA As’adiyah Putra Pusat Sengkang di Macanang. 

Langkah ini mulai menjajaki Nusantara bagian timur Indonesia tepatnya di Papua Barat. Tempat dimana orang-orang menjuluki beberapa tempat dengan “sepenggal surga”, kota minyak, kota Injil, bahkan kota 1.001 sungai. Di Papua Barat inilah, penulis menempuh pendidikan Sarjana di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sorong dengan program studi Pendidikan Agama Islam selama tahun 2016-2020. Kemudian, penulis kembali ke kampung halaman untuk melanjutkan pengembaraan ilmiah di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Sulawesi Selatan, sejak 2021 hingga 2023. 

Bagi penulis pribadi, membaca adalah sesuatu hal yang menyenangkan, demikian pula dengan menulis. Apalagi menulis karya ilmiah atau riset menjadi salah satu hobi penulis. Meskipun pasti merasa kesulitan di awal, tapi lama kelamaan menjadi kebiasaan. Dari penulisan karya ilmiah, penulis bisa menapaki kota-kota yang belum pernah dikunjungi. Tentunya dengan budget Rp. 0. Tak hanya sekali, tapi berkali-kali mengikuti acara tentang karya tulis ilmiah atau kepenulisan lainnya. 

Penulis pertama kali menemukan program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) lewat media sosial Instagram. Sepertinya ini berkah dari al-Qur’an juga (allahummarhamna bil qur’an). Penulis membayangkan pelatihan LKLB akan seru, ternyata memang benar adanya. Selama pelatihan, penulis merasa takjub dengan berbagai narasumber internasional yang digandeng dalam program LKLB. Itu sebabnya sampai detik ini, sebagai seorang alumni pelatihan LKLB, penulis tetap bersemangat mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan oleh Institut Leimena lewat program LKLB. 

Tema utama LKLB terkait toleransi, intoleransi, moderasi, dan radikalisme memang menambah gairah penulis dalam belajar. Isu-isu tersebut sangat hangat untuk didiskusikan, bahkan dengan mengangkat seputar isu tersebut, penulis bisa lolos Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) 2022 di Bali. 

Berbicara tentang moderasi, alangkah lebih baiknya penulis menceritakan sedikit bagaimana kesan penulis selama berdomisili di Kota Sorong, Papua Barat. Pertama, suasana harmonis sangat terasa menjadi potret kehidupan masyarakat di sana. Muslim dianggap minoritas dan non-Muslim dianggap mayoritas itu sudah biasa, sebagaimana di daerah-daerah seperti Manado, Medan, Bali, dan kabupaten/kota yang ada di Papua dan Papua Barat lainnya. Namun, tempat ibadah di Sorong bisa hidup berdampingan.

Jarak masjid dan gereja yang sangat dekat juga sudah lumrah. Nah, pertanyaan muncul, apakah kehidupan yang seperti ini menimbulkan konflik? Bagi orang lahir dan besar di Bone, tempat yang mayoritas dan minoritas akan keagamaan tidak pernah terpercik sedikit pun dari lisan orang-orang, tentunya memiliki sifat rigid. 

Apabila dihadapkan dengan potret kehidupan yang saling berdampingan dengan perbedaan tentu saja ada perasaan tidak aman. Ya, begitulah pola pikir yang tertanam di benak penulis saat awal berada di Sorong. Mana mungkin beda agama hidup di lingkungan yang sama? Mana mungkin masjid dan gereja berdekatan, apakah tidak mengganggu pelaksanaan ibadah satu sama lain? 

Namun, realitas yang tengah terjadi ialah konsep “lita’arafu” pada QS. Al-Hujurat ayat 13 sedang ditampilkan di kota ini. Konsep itu tidak hanya bermakna saling mengenal, namun lebih daripada itu, bermakna saling menghormati, saling memuliakan, dan saling menerima satu sama lain.

Kedua, sinergitas. Kata ini penulis pinjam untuk mengilustrasikan gaya dan pola kehidupan orang-orang di Kota Sorong. Gotong royong dan bahu-membahu untuk mencapai satu tujuan, itulah gambaran Papua Barat. Bahkan, hal ini diistilahkan dengan “satu tungku tiga batu”. Konsep yang menjadi slogan sekaligus cerminan moderasi keumatan di Papua Barat. Tungku ialah simbol dari kehidupan, tiga batu adalah simbol dari “kau, saya, dan dia” yang mengintegrasikan perbedaan baik agama, suku, dan status sosial dalam satu wadah persaudaraan. 

Maka tak heran, jika kepala suku, kepala kampung, pemerintah daerah, ormas, tokoh agama, tokoh pendidikan bergandengan tangan untuk mewujudkan kebhinekaan di bumi Cendrawasih. Kehadiran LKLB semakin mencerahkan paradigma penulis. Program ini membentuk mindset penulis untuk benar-benar paham bagaimana landasan teoritis dijalankan dengan menggemakan tiga konsep pendekatan yakni pendekatan kompetensi kolaboratif, pribadi, dan komparatif. 

Program LKLB memiliki maksud untuk memberi edukasi kepada khalayak tentang berpikir, bersikap, dan bertindak dalam bekerja sama dengan lintas agama dan kepercayaan. Program ini juga memberi pemahaman terkait kerangka moral, spiritual, dan pengetahuan diri pribadi, serta orang yang berbeda paham dan agama. Dengan bangunan yang sudah ada, LKLB kemudian membentuk fondasi bangunan penulis menjadi lebih kokoh, sempurna, dan lebih tercerahkan akan urgensi teoritis dan praktisnya moderasi untuk sinergi. Tersirat suatu tujuan yang penulis pahami dari moderasi ialah terwujudnya persaudaraan dan sinergi yang baik antar sesama umat maupun lintas umat demi tercapainya baldatun thayyibatun wa rabbun gafur

Setelah mengikuti serangkaian pelatihan, sebagai pemula, penulis tertantang untuk menggemakan program ini sebagai upaya meretas radikalisme, ekstrimisme, fundamentalisme, dan sebutan lainnya yang sepadan. Dalam pandangan penulis, konten moderasi itu adalah LKLB. Yang seharusnya digemakan itu adalah konten moderasi, sebab moderasi terlalu umum bagi masyarakat. 

Bahkan bagi kalangan akademisi, beberapa mengatakan bahwa “Kita sudah tahu bermoderasi yaitu tidak membenturkan antara Pancasila dan agama, tapi penerapannya bagaimana? Seperti yang sudah kita jalani, seolah-olah moderasi beragama itu sulit, padahal tidak. Ini hanya sebatas teori semata, sementara praktiknya sudah dijalankan.”

Menurut penulis, pelatihan LKLB menjadi jawaban atas substansi dari moderasi beragama. Pelatihan LKLB secara daring juga telah menjawab digitalisasi era sekarang. Lewat program LKLB dan segenap panitia telah memberi ruang peningkatan kompetensi menulis bagi para alumni. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada LKLB dan segenap panitia. 

Penulis berharap semoga LKLB tetap aktif berkontribusi dalam mengedukasi khalayak tentang pentingnya pemahaman lintas agama dan lintas budaya. Penulis juga berharap supaya LKLB dan segenap panitia memfasiltasi pelatihan menulis atau mentoring artikel ilmiah. Output dari harapan penulis ini ialah bisa mewadahi tenaga pendidik dalam melakukan publikasi ilmiah, khususnya terkait moderasi beragama.

Menurut penulis, pelatihan LKLB menjadi jawaban atas substansi dari moderasi beragama. Pelatihan LKLB secara daring juga telah menjawab digitalisasi era sekarang.

Profil Penulis

Ahmad Syafi’i

Alumni LKLB Angkatan 28

Guru MTs As’adiyah Uloe, Bone, Sulawesi Selatan

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *